18 Aug 2016

Ada Tempat di mana Berdua Akan Jadi Lebih Baik

Ada Tempat di mana Berdua Akan Jadi Lebih Baik - Sekolah tempat gue bekerja adalah salah satu tempat kerja teraneh yang pernah gue temui. Catat! Gue hanya pernah bekerja di beberapa tempat yang bisa dihitung dengan jari-jari satu tangan. Dan dari tempat kerja yang pernah gue numpang cari makan itu, tempat gue kerja yang sekarang adalah yang terabsurd. Baca juga: Upacara 17-an Pertama
Ada Tempat di mana Berdua Akan Jadi Lebih Baik
Ada Tempat di mana Berdua Akan Jadi Lebih Baik
Sekolah tempat gue bekerja memang salah satu sekolah elit yang bonafide untuk mendidik murid-murid titipan orangtua. Gue bisa jamin, semua guru-guru di tempat gue bekerja penuh dedikasi. Mereka menyayangi murid-murid layaknya anak sendiri dan selalu memberikan yang terbaik bagi murid-muridnya. Rasa peduli guru di tempat gue bekerja jauh di atas rata-rata guru di tempat kerja lain.

Tapi sepertinya, bagi sebuah yayasan swasta bidang pendidikan seperti yayasan yang membawahi sekolah gue, itu saja tidak cukup. Sepertinya, bagi sebuah yayasan swasta milik perorangan yang berorientasi pada ibadah sebagai latar belakang didirikannya sekolah itu, ketulusan guru-guru kepada anak didiknya, belum cukup memenuhi harapan pemiliknya. Sepertinya, tidak akan pernah cukup, bila dilihat dari kaca mata kudanya.

Akan ada banyak hal absurd tentang tempat gue bekerja yang akan gue galauin di sini. Salah satunya adalah, ketidaknyamanan gue dengan hubungan guru (secara umum) dan manajemen di sekolah gue, yang menurut gue, manajemen di tempat gue bekerja tidak bisa bekerja secara efektif. Gue tahu, mereka menjadi manajemen yang tidak efektif pasti karena sebab-sebab yang gue juga belum tahu pastinya. Tapi, dari analisa gue yang selama dua tahun terakhir mengamati dan menilai, hal-hal tidak enak itu mungkin bisa dilatarbelakangi beberapa hal, antara lain.
  1.    Karena manajemen di tempat gue bekerja adalah kepala sekolah SMP, waka kurikulum, waka kesiswaan, kepala keuangan, waka keagamaan, dan HRD, gue yakin seratus persen kalau mereka agak sulit membagi pikiran mereka dengan segudang beban tentang apa yang harus mereka lakukan sebagai tim manajemen sekolah. Sementara mereka juga tetap harus memikirkan tugas mereka di sekolah sebagai jajaran pimpinan dan seorang guru. Misalnya, kepala sekolah selain punya tugas sebagai seorang pemimpin, juga punya beban mengajar, juga punya tugas sebagai manajemen itu sendiri. Misalnya juga, HRD yang punya tugas mengurus keperluan guru-guru untuk urusan personalia, selain merangkap sebagai kepala sekolah SMA yang punya tugas sebagai pemimpin, dia juga masih punya tugas sebagai guru. See? Maksud gue, semuanya seperti dipaksakan.
  2.    Karena manajemen di tempat gue bekerja kekurangan waktu untuk bisa membagi tugasnya yang bejibun, mereka lupa akan sesuatu yang juga sama pentingnya dengan semua urusan di atas tadi. Mereka lupa mengayomi guru-guru yang notabene penggerak urusan sekolah itu sendiri. Di sini, gue sadar-sesadar-sadarnya-sadar bahwa pekerjaan mereka buanyak banget. Tapi, mereka lupa bahwa komunikasi adalah kunci utama dari sebuah hubungan. Baik hubungan personal ataupun profesional. Mereka lebih suka mengetik dan menyebarkan info lewat grup media sosial daripada datang langsung ke ruang guru untuk menyampaikan informasi ke guru-guru.
  3.    Karena manajemen di tempat gue bekerja lebih seperti kerbau di cocok hidungnya dihadapan pemilik yayasan, daripada sebagai mediasi yang bisa menengahi suara yayasan dan karyawan. Mereka dituntut harus ikut apapun yang pemilik yayasan tempat gue bekerja perintahkan, dan mengabaikan bahwa mereka seharusnya bisa merumuskan keinginan pemilik yayasan dan harapan karyawan dengan bijak dan adil.
  4.    Karena manajemen terlalu pusing menghadapi banyaknya jumlah guru—yang gue akui—yang kadang-kadang memang lupa diri, akhirnya mereka sering salah langkah menghadapi para  guru dan hal itu akhirnya menyakiti perasaan guru-guru. Misalnya, ada satu guru melakukan kesalahan, yang kadang diikuti oleh kesalahan-kesalahan guru lainnya yang mirip atau sama—karena ikut-ikutan. Manajemen di tempat gue bekerja lebih suka langsung merumuskan peraturan untuk menghindari kesalahan terjadi ulang, daripada, mengomunikasikan (tabayyun) dengan si pelanggar peraturan. Mencari sebab pelanggaran dilakukan. Mencari solusi atau hukuman yang tepat untuk si pelanggar peraturan. Hal yang seperti ini gue nilai tidak bijak, karena hal ini tidak adil bagi mereka yang tidak melakukan kesalahan.
Dan sebab-musabab yang gue tuliskan di atas, gue rasa bersumber dari kepemilikan yayasan yang perseorangan. Percaya atau tidak, ada tempat di mana dua kepala itu lebih baik daripada satu. Perusahaan dengan pemegang saham lebih banyak dan beragam akan lebih punya pandangan alternatif dibanding perusahaan yang hanya punya satu kepala dan segala sesuatunya harus terjadi sebagaimana mesti maunya. 

Hayo, mau komen apa coba?

Link aktif akan langsung ditandai sebagai spam, sebagai alternatif bisa pilih comment as menggunakan Nama/URL ya :)
EmoticonEmoticon