18 Aug 2016

Belajar Bahasa Indonesia, Aktif dan Menyenangkan

Belajar Bahasa Indonesia, Aktif dan Menyenangkan - Sudah tiga tahun terakhir ini gue diminta untuk mengajar kelas 7 alias kelas 1 SMP, dan hampir tiga tahun terakhir ini, anak-anak lucu nan kiyut seperti laiknya anak SD itu kadang hampir membuat gue tidak waras. Di awal tahun, saat perkenalan dan penyampaian kontrak belajar, gue selalu menyampaikan apa saja yang jadi indikator penilaian mereka selain hasil pekerjaan mereka di sekolah atau tugas terstruktur lainnya. Salah satunya adalah sikap baik dan keaktifan mereka selama proses pembelajaran. Dan tahun ini adalah salah satu tahun luar biasa karena gue bertemu dengan anak-anak yang luar biasa aktifnya.

Belajar Bahasa Indonesia, Aktif dan Menyenangkan
Belajar Bahasa Indonesia, Aktif dan Menyenangkan
Mungkin metode gue mengajar masih harus diperbaiki, meskipun setiap tahun gue selalu melakukan inovasi-inovasi cihuy untuk membuat murid gue bersemangat belajar Bahasa Indonesia. Ya, gue tidak menyalahkan mereka kalau beberapa dari mereka sulit semangat belajar Bahasa Indonesia karena sejak gue sekolah dulu, memang tidak sedikit dari teman gue yang sulit menikmati pembelajaran Bahasa Indonesia. Nah berbekal pengalaman itulah, inovasi-inovasi yang gue lakukan ditujukan. 

Dua tahun sebelumnya, gue dikeluhkan oleh home room teacher (wali kelas) mereka karena pembawaan gue yang dianggap 'kurang galak' menghadapi anak-anak sehingga membuat mereka kerap liar di kelas. Jangankan galak, hoi, gue mau ngomong dengan suara keras aja sulit. Tapi itu dua tahun sebelumnya. Keluhan dari para wali kelas itu menjadi cambukan buat gue untuk jadi lebih baik. Tahun ini gue lebih banyak melatih tenggorakan gue untuk lebih bisa elastis. Seperti halnya karet, gue lebih sering narik urat leher gue untuk bisa berbicara dengan suara lantang. Tapi memang kampret, semakin gue sering narik urat leher, semakin menjadi-jadi murid gue aktifnya. Misalnya hari ini.

Setiap baru satu kalimat gue menyampaikan materi, pasti adaaa.. aja murid yang nimpaling omongan gue.

"Jadi, pengalaman pribadi, seperti yang diungkapkan teman kalian, adalah pengalaman yang telah dialami diri sendiri..."

Belum selesai gue bicara, ada yang nyeletuk, "Jadi, Mi, yang tau cuma kita sendiri, ya, Mi?"

"Begini, Nak. Maksudnya pribadi..." gue bermaksud menjelaskan tapi gagal.

Anak perempuan yang keliatannya memang agak menel sudah lebih dulu nyerobot jatah gue bicara, "Kalau pengalaman baper, boleh, nggak Mi?"

"Boleh saja, asal..."

"Mi.. Mi.. Kalau yang tau bukan cuma kita, Mi? Misalnya kita berempat nih, saya dan mereka, sama-sama mengalaminya?"

"Oke, jadi begini."

"Kalau nggak inget gimana, Mi?"

"Tapi saya nggak ingat, Mi."

"Cerita apa saja boleh ya, Mi?"

Satu orang maju mendekati gue, "Kalau misalnya Mi, pengalamannya tentang jatoh, Mi dari sepeda, boleh nggak, Mi?"

Otak gue tiba-tiba kosong. 

Kalau ada blangwir lewat, gue semprot nih murid-murid gue pakai tekanan air tertinggi biar pada mingkem. Saat itu juga rasanya gue pengen langsung balik badan, keluar kelas, lalu pulang dan tidur yang nyenyak di rumah. Sekuat apapun gue narik urat leher, ya tidak akan terdengar suara gue kalau modelnya keroyokan begini. Sudah macam komendan polisi yang berusaha menenangkan orang-orang desa saat acara demo. PERCUMA.

Gue menarik nafas. Berusaha tetap tenang. Gue diam saja meski mereka tidak berhenti bertanya macam-macam yang bahkan melebar entah sampai bawa-bawa bahasan lauk makan siang mereka apa, astaga. Gue paham betul, di usia mereka yang baru menginjak sebelas atau dua belas tahun, ini adalah momen penting untuk kemampuan mereka mengemukakan pendapat. Mereka sedang berusaha menarik perhatian semua orang untuk terlihat keren, termasuk gue, gurunya. Jadi dengan alasan mulia itu, gue tidak marah atau mengabaikan mereka semau gue. Kalau aja yang melakukan hal serupa ke gue adalah adik gue, sudah pasti gue gigit tuh karena geregetan.

Lama gue tidak menjawab dan cuma pasang wajah datar, tanpa senyum, tanpa melotot. Murid yang tadi mendekat juga kembali ke kursinya. Lama-lama mereka sadar kalau gue lelah. Sangat. Beberapa menegur temannya untuk diam. Salah satunya sempat bilang, "Diem dulu loh, woi."

Yes! Usaha gue menarik perhatian mereka berhasil. Gue baru akan tersenyum lalu melanjutkan penjelasan sampai murid gue yang menegur temannya tadi menatap gue dengan sungguh-sungguh. "Mi, nggak ada yang berkesan loh pengalaman saya."

AAAA!!! TIDAAAAKK!! *Gue pura-pura mati!*

Hayo, mau komen apa coba?

Link aktif akan langsung ditandai sebagai spam, sebagai alternatif bisa pilih comment as menggunakan Nama/URL ya :)
EmoticonEmoticon