23 Aug 2016

Kegagalan Seorang Guru

Kegagalan Seorang Guru – Kemarin gue memeriksa hasil pekerjaan murid-murid gue setelah tadi selama enam puluh menit di kelas, mereka mengerjakan beberapa soal sederhana gue untuk kuis—kalau jaman dulu gue menyebutnya ulangan harian—yang entah sejak kapan istilah yang dulu sering gue dengar di masa kuliah, jadi ikutan dipakai di sekolahan. Baru dua atau tiga lembar kertas yang gue periksa, dan tetiba kepala gue rasanya keliyengan. Gue sakit kepala yang rasanya bahkan lebih menyakitkan daripada migrain akut yang bisa gue derita kalau kurang tidur dan kebanyakan melototin layar laptop. Gue menyerah untuk meneruskan mengoreksi pekerjaan murid-murid gue yang berjumlah 24 itu. 

Kegagalan Seorang Guru
Kegagalan Seorang Guru
Gue pergi ke private room guru perempuan, ya kalau gue nekat ke private room guru laki-laki, gue pasti akan langsung mendengar jeritan histeris para bapak-bapak yang merasa gue intipin, atau mungkin gue akan langsung di depak. Gue menyandarkan kepala gue ke dinding beralaskan bantal leher—guetidak tahu pasti apa namanya, yang jelas bantal ini kecil dan hanya cukup menopang leher gue. Dan dalam hitungan detik, tiba-tiba saja gue sudah berpindah tempat. Gue mengelilingi sekolah sambil memegang pinggang gue yang pegal entah karena apa. Di sana gue bertemu murid-murid gue yang tadi sudah melaksanakan kuis. Lalu detik berikutnya, gue tersadar sedang meringkuk kedinginan karena udara AC ruangan, membelakangi guru perempuan lain yang sedang pumping ASI untuk bayinya di rumah. Ternyata gue sudah tertidur selama hampir dua jam. Bayangin! Dua jam!! Gue bikin apa sih di sekolah gue ini sampe gue bisa-bisanya tidur selama itu??

Jadi, gue terbangun dengan kepala yang terasa agak ringan dan pinggang gue yang pegal—ternyata rasa pegal itu akibat gue tertidur tidak pada tempatnya. Gue melirik meja kerja gue dari balik private room, astaga, gue ingat pekerjaan gue mengoreksi belum selesai. Itulah alasan sebenarnya gue menderita sakit kepala dadakan. Semua nilai dari lembaran kertas kuis itu mengecewakan gue.

Enam. Enam lima. Enam. Lima empat.

Astaga. Nilai apa yang sedang gue periksa ini! Sementara soal yang gue buat sudah sesuai standar terendah yang gue bisa.  Memang sih, cara anak menangkap pelajaran itu berbeda-beda. Tapi, masa untuk soal paling mudah pun, hampir tidak ada yang sampai kriteria lulus dari sepuluh orang yang gue periksa. Nilai paling tinggi yang gue temui cuma tujuh empat. 

Buat gue, wajar-wajar saja kalau seorang guru mengharapkan semua muridnya pintar. Secara, seorang guru yang baik pasti sudah berusaha menerangkan materi dan penjelasan dengan sangat jelas kepada muridnya. Bahkan kalau ada murid gue yang tetap tidak paham meski sudah dua tiga kali gue jelaskan, gue dengan senang hati menjelaskan walaupun urat leher gue sudah hampir aus. Paling tidak, gue percaya bahwa mereka harusnya paham dengan apa yang gue jelaskan. Buat gue, hal yang tidak wajar adalah menyamaratakan kemampuan anak. Jadi, mungkin ada beberapa anak yang pinter di Bahasa atau Math, ada juga yang bisa menghapal banyak, tapi suka bengong saat diminta untuk menghitung. Atau ada yang bisa paham dengan sekali penjelasan, ada juga yang harus berkali-kali diterangkan sampai jelek dulu baru bisa paham.

Jadi, ketika gue menemukan bahwa nilai murid-murid gue jeblok dan tidak sesuai dengan harapan gue, gue tergugu dan merasa kecewa. Mereka tidak paham pada apa yang gue sampaikan atau memang gue gagal menyampaikan materinya dengan baik? Gue lalu instropeksi diri. Kelas yang gue adakan kuis itu memang kelas paling kalem sepanjang pengalaman gue mengajar di sekolah ini. Mau gue menerangkan yang paling susah pun mereka selalu jawab, paham. Ketika gue menerangkan yang paling mudah pun, mereka tetap kalem. Tidak ada tanda-tanda berusaha mencari perhatian dari gurunya dengan pamer kemampuan. Beda sekali dengan kelas sebelahnya yang 360 derajat berbeda.

Dari sana gue ambil garis-garis merah untuk menghubungkan. Mungkin gue yang terlalu cepat. Mungkin gue yang terlalu menganggap materinya mudah. Mungkin gue yang terlalu percaya bahwa mereka diam berarti benar-benar sudah paham. Mungkin mereka bingung dengan kalimat tanya gue. Dan gue tarik kesimpulan, gue telah gagal.

Gue gagal memotivasi mereka untuk lebih semangat lagi ketika belajar Bahasa. Gue gagal menginspirasi murid-murid gue seperti yang dulu pernah guru Bahasa gue lakukan pada gue.

Hayo, mau komen apa coba?

Link aktif akan langsung ditandai sebagai spam, sebagai alternatif bisa pilih comment as menggunakan Nama/URL ya :)
EmoticonEmoticon