19 Aug 2016

Menjadi Guru Itu...

Menjadi Guru Itu... - Untuk kalian yang sedang duduk di bangku kuliah keguruan, bercita-cita jadi seorang guru, dan atau bagi yang sedang berusaha untuk menjadi seorang guru, coba simak baik-baik postingan gue kali ini. Busettt... Padahal gue juga sedang dalam tahap belajar. Yah, anggap saja gue sedang sharing pengalaman gue menjadi seorang guru.

Menjadi Guru Itu...
Menjadi Guru Itu...
Gue ingatkan. Kalau memang tidak ingin jadi guru dan punya pekerjaan impian, lebih baik jangan buang waktu kalian kuliah di keguruan selama empat tahun. Kalian hanya buang-buang waktu dan uang, dan mengurangi peluang untuk mereka yang benar-benar niat untuk kuliah di keguruan. Percaya deh sama gue, banyak loh mahasiswa keguruan di luar sana yang tidak benar-benar berniat untuk menjadi seorang guru. Dan output-nya? Tidak perlu ditanya lagi, mereka jadi guru yang bekerja sekadarnya, atau bahkan tidak sama sekali menjadi seorang guru.

Jangan juga kalian ingin kuliah di keguruan karena iming-iming PNS guru punya tunjangan sertifikasi yang lumayan, di luar gaji. Jadinya? Ya jangan heran kalau kalian juga menemukan banyak PNS guru yang cuma bekerja sekadarnya, sesuka hati tanpa beban moral ke anak didik mereka, lalu membayar orang lain sebagai honorer untuk menggantikan posisi kalian, sementara kalian sibuk berdagang/berbisnis. Gue tidak bercanda untuk yang satu ini. Gue pernah menemukan kasus seperti ini.

Setiap profesi punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing, tapi sejauh yang gue tahu, jadi guru punya lebih banyak keuntungannya. Misalnya saja, kalian akan punya banyak kenalan orangtua murid dari berbagai latar belakang—artinya, bisa menambah koneksi sosial kalian. Atau kalian akan selalu bahagia saat bekerja karena bisa bertemu anak-anak penuh semangat yang lucu-lucu dan menggemaskan—saking lucunya, kalian pasti ingin menelan mereka bulat-bulat sebab ulah yang mereka buat. Atau kalian bisa mengumpulkan pahala sebanyak mungkin dengan cara menebarkan ilmu yang kalian punya kepada mereka yang kalian sebut dengan murid. Kalau bagian tidak enaknya mungkin cuma berkutat di banyaknya waktu dan pikiran yang harus disediakan untuk menyelesaikan administrasi perangkat guru.

Buat saya sendiri, menjadi seorang guru itu membanggakan dan menyenangkan. Kedua hal ini akan kalian dapatkan bila, kalian berkeinginan menjadi seorang guru karena panggilan hati. Hmmm... yang terjadi pada gue mungkin panggilan hati, karena gue sendiri bingung untuk menjelaskan kenapa gue masih bertahan, dengan segudang polemik yang gue hadapi dengan pekerjaan gue ini.

Meski sulit menghadapi masalah yang gue rasakan sedang terjadi di tempat gue bekerja—padahal hal itu sangat-sangat-sangat mengganggu gue—tapi gue masih bisa merasakan bahagia saat gue berada di kelas. Bertemu mereka yang tidak jarang tidur di kelas saat gue mengajar. Bertemu calon-calon penerus bangsa, yang siapa tahu kan kalau kelas salah satu dari mereka yang pernah gue ajari bagaimana cara berbicara di depan umum jadi seorang presiden atau negarawan. Dan membayangkan kelak mereka akan menjadi orang besar dan bermanfaat bagi orang banyak, itu saja cukup membuat gue senang.

Walaupun kadang sakit hati juga saat melihat berita-berita yang akhir-akhir ini memojokkan pendidikan dan seolah-olah guru tidak berarti bahkan bagi mereka orangtua yang menitipkan anak mereka kepada kami. Tapi, gue masih menunggu-nunggu moment pergantian jam untuk bertemu mereka di dalam kelas. Karena mungkin, akan ada hal baru yang gue pelajari dari mereka. Karena mungkin, akan ada pengalaman baru yang belum pernah gue alami bersama murid-murid gue sebelumnya.

Nah buat kalian yang ingin jadi guru, atau sedang dalam tahap menyelesaikan bangku kuliah keguruan. Bersiaplah bahagia. Bersiap untuk mempersiapkan mereka yang nasib bangsa bergantung pilihan mereka. Bersiaplah dan tetaplah kuat!

Hayo, mau komen apa coba?

Link aktif akan langsung ditandai sebagai spam, sebagai alternatif bisa pilih comment as menggunakan Nama/URL ya :)
EmoticonEmoticon