20 Aug 2016

Seorang Guru Tidak Pernah Berhenti Belajar

Seorang Guru Tidak Pernah Berhenti Belajar - Jadi guru itu harus serba bisa. Apalagi kalau kalian menjadi guru di sekolah swasta seperti tempat gue bekerja saat ini. Karena kegiatan sekolah swasta biasanya lebih beragam dan seabrek dibanding kegiatan di sekolah negeri, jadilah, setiap tahun selalu ada event-event tertentu yang harus terlaksana sesuai dengan jadwalnya. Dan ya, semua kegiatan itu di-handle, tidak lain dan tidak bukan, oleh guru. Baca juga: Menjadi Guru Itu...

Seorang Guru Tidak Pernah Berhenti Belajar
Seorang Guru Tidak Pernah Berhenti Belajar 
Di sekolah tempat gue bekerja saat ini ada kegiatan rutin kesiswaan yang tujuannya selain memberikan pengalaman nyata, juga mengembangkan kemampuan dan keahlian siswa dalam bidang tertentu.

Misalnya, untuk murid kelas 7 dan 10 (atau kelas 1 SMP dan SMA), mereka disambut kegiatan MOS—kalau sekarang MPLS namanya—di hari-hari awal masuk sekolah. Dari tahun ke tahun, gue bersyukur karena sekolah gue adalah salah satu sekolah yang tidak mengizinkan adalanya praktik senioritas dan atau bullying saat MOS. Jadi, kegiatan MOS di sekolah gue, selalu dilakukan dengan pengenalan letak setiap ruang di sekolah, sosialisasi kurikulum, sosialisasi kesiswaan, ekskul, insight session (semacam motivasi untuk berusaha menggapai cita-cita), talkshow yang mendatangkan beberapa alumni, dan kegiatan lain yang memberikan pandangan mereka mengenai visi dan misi sekolah.

Ada leadership trainee, homestay—semacam KKN ala anak kuliahan, english course di Pare—Kediri, wawasan universitas, outbound, study tour ke luar negeri, pemilihan student of the month dan student of the year, kunjungan ke pesantren atau tempat-tempat lain yang ada hubunganya dengan agama, daaan... masih banyak yang lainnya.

Nah, untuk bisa menunjuang semua kegiatan itu, guru-guru harus bisa, paling tidak, mau menyumbangkan pikiran dan tenaga mereka untuk terlaksananya kegiatan. Tentu saja, hal ini menuntut guru harus serba bisa.

Bayangin aja, gue harus bisa menyesuaikan diri dengan semua hal baru yang tidak pernah gue temui di bangku kuliahan. Misalnya, gue harus bisa membimbing murid mendirikan tenda, sementara pengalaman gue mendirikan tenda terakhir adalah saat gue seusia mereka, belasan tahun silam. Atau gue harus bisa mengajarkan masak ke murid sementara gue sendiri hampir tidak pernah masak di rumah. Atau gue harus memberikan contoh untuk bergelantung di tali yang dibuat empat puluh lima derajat dari permukaan tanah saat kegiatan outbound. Atau juga, gue harus bisa menghafal juz 30 untuk menyimak saat murid-murid gue setor hafalan tahfidz mereka—dan gue akui, itu adalah yang tersulit buat gue.

Barangkali pekerjaan sebagai seorang guru terlihat mulia bagi suami gue karena pada kenyataannya, selain berbagi ilmu itu sebagai sedekah yang bisa menjadi amal jariyah, seorang guru tidak pernah berhenti belajar selama mereka berusaha membelajarkan murid-muridnya. Suami gue pernah mendeklarasikan bahwa, dibandingkan pekerjaan lain yang bisa menghasilkan banyak uang dan bonus akhir tahun berlipat ganda, dia sangat bersyukur karena istrinya lebih memilih menjadi seorang guru. Jadi deh, kadang-kadang hal itu yang membuat gue urung untuk mencari pekerjaan lain yang bisa lebih membantu menambahkan angka di buku tabungan gue. Dan gue merasa sedikit bangga karenanya.

Yang jelas, jadi seorang guru juga tidak bisa hanya membelajarkan apa yang hanya dipelajari di bangku kuliah empat tahun mereka di fakultas keguruan dan atau hasil PPL di sekolah-sekolah pada tahun terakhir mereka. Karena pada kenyataannya juga materi di sekolah kadang tidak pernah gue pelajari selama kuliah. Gue masih harus sering mengulang lagi materi-materi jaman kuliah dulu. Membaca lebih banyak buku dari saat gue kuliah. Dan masih harus tanya sana-sini (diskusi) dengan guru satu subjek lainnya, kalau ada materi yang gue agak bingung.

Jadi guru itu tetap harus dan bisa belajar, bahkan saat kalian membelajarkan anak-anak orang.

Hayo, mau komen apa coba?

Link aktif akan langsung ditandai sebagai spam, sebagai alternatif bisa pilih comment as menggunakan Nama/URL ya :)
EmoticonEmoticon