22 Aug 2016

Unstopable Love(?) Bagian Satu

Unstoppable Love(?) Bagian Satu - Inisiatif ini begitu sulit sekali direalisasikan. Padahal keinginan ini sudah terpikirkan sejak pertama kali kubaca puisi buatan Fin ketika kami masih SMA. Fin suka sekali menulis, ia menulis hampir semua hal dalam hidupnya di buku harian. 
Unstoppable Love(?) Bagian Satu
Unstoppable Love(?) Bagian Satu
Dua minggu lalu, ketika aku mampir ke rumahnya, aku membuka lemari buku di kamarnya. Selain novel-novel yang sudah pernah kubaca, kulihat banyak sekali buku-buku bersampul cantik di dalamnya. Buku-buku itu sudah berada di sana untuk waktu yang lama dan semakin hari semakin bertambah. Ketika kuberanikan diri untuk bertanya mengenai buku-buku itu, Fin dengan antusias mengambil satu yang paling kecil dan paling terlihat tua kemudian menunjukkan isinya padaku. 

“Ingat kejadian ini tidak?” tanya Fin menunjuk sebuah gambar di bagian tengah buku hariannya. Sebuah komik strip yang berantakan, tetapi saat melihatnya otakku segera menayangkan ulang kejadian itu—aku dengan sengaja menginjak kotoran sapi karena mengiranya sampah plastik—dan pada detik berikutnya kami berdua terbahak-bahak. 

“Aku sering tertawa sendiri membaca ulang semua buku harian ini,” Fin mengembalikan buku itu ke tempatnya semula.

“Kau pasti menulis banyak hal tentangku, kan?” cibirku mengingat banyak hal menarik yang telah kami lalui bersama selama enam belas tahun persahabatan kami.

“Pastinya, dan semua tentangmu benar-benar bisa menghiburku,” Fin tertawa lagi. “Sesekali cobalah menulis, tentang apa saja, siapa saja, bahkan hal remeh sekalipun. Kelak kau akan tertawa atau bahkan menangis sendiri ketika membacanya.”

Ekspresi cerah Fin ketika mengatakannya terus terngiang-ngiang dalam kepalaku selama perjalanan pulang. Keinginan lama terpendamku semakin menggebu-gebu. Kupikir aku bisa mencobanya, tapi menulis nyatanya bukan hal yang mudah. Setengah jam aku duduk dan memikirkan banyak hal, tapi tidak satu pun kata yang kutulis dalam buku di hadapanku. 

Sedetik sebelum aku memutuskan untuk beranjak dari meja kerjaku, ponselku berbunyi. Fin mengirim pesan dan bertanya apakah besok kami bisa bertemu. Tiba-tiba aku tahu harus menulis apa. Kuraih pena dan kubuka kembali buku yang sudah kututup dengan cepat. Kusempatkan untuk membalas pesan Fin terlebih dahulu. 

Setelah pukul 5 aku bisa menemuimu. Hapsa.

***

Flora Intania, sahabatku. Fin punya nama yang indah, tetapi ia tidak suka dipanggil dengan nama depannya, terlalu panjang, menurutnya. Padahal, dibandingkan dengan nama depanku yang sulit dilafalkan, namanya jauh lebih indah. Fin. Nama panggilan itu pertama kali ia kenalkan kepada orang-orang di hari pertama kami duduk di kelas tujuh.

Agustus 2002 
Fin adalah satu-satunya mahluk yang kukenal di sekolah ini. Oleh karena itu, kami sepakat untuk duduk bersebelahan ketika kami tahu bahwa kami akan berada di kelas yang sama. Oh, dan satu orang laki-laki bernama Anton yang seingatku kukenal di kelas empat, tetapi kemudian ia pindah sekolah. 

Satu-satu murid baru dipersilakan mengenalkan diri dari bangku masing-masing. Beberapa anak terlihat percaya diri, suara mereka lantang, dan gestur mereka menarik. Beberapa lainnya tidak terlihat antusias, dan sisanya sama kikuknya seperti Fin. Suara Fin bergetar ketika ia menyebutkan namanya, tetapi ia dengan lugas memperkenalkan nama panggilan yang menurutnya, orang-orang akan lebih mudah mengingatnya.

Anak laki-laki yang duduk di sebelah Anton ternyata berasal dari sekolah yang sama denganku. Aku dan Fin saling menatap ketika ia menyebutkan nama sekolah dasar kami. Sepertinya aku dan Fin tidak bergaul dengan baik, kami bahkan sama-sama merasa tidak pernah melihat anak laki-laki itu, dan konyolnya kami sempat membicarakan wajahnya yang—kami rasa—lumayan tampan.

Aku dan Fin memiliki banyak teman baru selama satu semester. Farah, Detrys, dan beberapa anak laki-laki di kelas kami. Farah luar-dalam seorang kutu buku, setiap waktu ia habiskan dengan buku, baik buku pelajaran ataupun komik, dan kurasa dari Farahlah, Fin mulai menyukai buku komik. Detrys si Muka Merah, ia tidak pernah absen membawa susu kaleng bergambar beruang dan punya wajah yang otomatis berubah kemerahan ketika berbicara, menguap, apalagi tertawa. Sementara Reza dan Yulius adalah dua anak laki-laki paling konyol di kelasku yang duduk tepat di belakangku, mereka berteman dan mengganggu siapa saja.

Fin lebih mudah menemukan banyak teman dibandingkan aku, selain kenal dengan beberapa kakak kelas, Fin juga akrab dengan beberapa perempuan—yang sebaiknya dihindari—yang sedang dalam masa puber. Visca, Narisa, dan Faradhila lebih suka mengajak Fin hang out di kota daripada mengerjakan tugas sekolah ataupun belajar di perpustakaan. Bertolak belakang sekali dengan pribadi Fin yang sebenarnya. 

Pada dasarnya Fin adalah anak perempuan yang tomboi dan memiliki selera yang kompleks. Ia suka mendengar musik rock, olahraga, dan pergi ke perpustakaan. Tapi sejak berteman dengan teman-teman barunya, kurasa Fin mengalami pubertas lebih cepat dariku. Sering kulihat mereka memperhatikan anak laki-laki dari kelas lain atau bahkan kakak kelas yang termasuk anggota OSIS. Mereka bahkan membentuk kelompok semacam geng yang isinya anak-anak perempuan pesolek—tentu saja Fin tidak termasuk kategori yang satu ini—dan bertukar buku harian. Semua hal-hal yang anak perempuan sekali. 

Farah, Detrys, dan aku sedang bercerita mengenai film yang kami tonton di televisi semalam ketika kulihat Vrisca menghampiri Alambana di kursi paling depan. 

"Apa yang kau baca?" suara Vrisca terdengar olehku. Aku mencuri dengar. "Sepertinya ada sesuatu di sini."

"Maksudmu?" suara nyaring Alambana terdengar gagap.

"Sepertinya kau menyukai Fin. Ayo, mengaku saja," ucap Vrisca sambil tersenyum menggoda dan aku bersumpah melihat Alambana salah tingkah menghadapi pertanyaan yang kupikir konyol itu. Tiba-tiba saja hal ini jadi menarik bagiku. Tentu saja, aku bukan tipe yang suka menguping apalagi menggosipkan sahabatku sendiri, tapi kalau hal itu benar, maka akan jadi hal yang luar biasa. Apa yang Alambana sukai dari Fin adalah hal yang selanjutnya ingin kuketahui.

Alambana adalah anak laki-laki paling tampan di kelasku, meskipun menurutku masih ada yang lebih terlihat menarik. Ia punya garis wajah yang tegas, hidungnya bangir, matanya coklat muda, dan kulitnya putih bersih. Sejak hari pertama sekolah beberapa kakak kelas perempuan kami sibuk mengajaknya berkenalan yang lebih terlihat seperti menginterogasi. Kurasa banyak anak perempuan di kelasku yang tertarik pada tampangnya yang mirip model anak-anak di majalah fesyen itu.

"Hapsa, kau membuatku merasa sedang berbicara pada tembok, kau tahu?" Detrys berkacak pinggang. Wajahnya merah padam dan kurasa sebentar lagi akan ada asap yang akan keluar dari telinganya. Karena terlalu antusias dengan apa yang akan dijawab oleh Alambana, aku melupakan Detrys dan Farah sedari tadi.

"Maaf. Kau bilang apa tadi?"

"Ah, kau menyebalkan." Detrys membuang muka, tidak mau bicara padaku lagi dengan bibir memberengut.

***

Januari 2003
Fin tiba-tiba membenci anak laki-laki itu. Ternyata, selain tampan, anak laki-laki bernama Alambana itu punya daya pikat lain. Ia mendapatkan peringkat satu di semester pertama. Sementara itu, Fin yang selama sekolah dasar dulu selalu mendapat peringkat satu, harus menerima dengan hati terluka bahwa ia hanya mendapat peringkat enam. Bukan dua atau tiga, melainkan enam. Ya, Fin marah sekali karena telah memecahkan rekor peringkat terbanyaknya. Marah dan melimpahkan semua kemarahannya pada seseorang yang mendapatkan posisinya dulu.
Unstoppable Love Bagian Satu-1
Unstoppable Love Bagian Satu-1
"Aku bahkan tidak mengingatnya sama sekali, itu berarti dia bukan siapa-siapa, kan?" Fin kelihatan kesal sekali. Ia datang ke rumahku setelah acara pembagian buku laporan hasil belajar dengan wajah muram. Tanpa bertanya aku tahu ia dimarahi orang tuanya karena prestasi akademiknya menurun. Anak laki-laki yang selama sekolah dasar tidak pernah diingatnya kini muncul sebagai peringkat satu sekolah. Ya, Alambana adalah anak laki-laki yang mengaku berasal dari sekolah dasar yang sama dengan kami di hari pertama sekolah. 

"Bagaimana dia bisa mengalahkanku?"

"Sebenarnya, kau bukan marah karena dia mendapat peringkat satu, kan?" pertanyaanku membuat Fin melirik tajam. "Kau marah karena kau tidak bisa mempertahankan prestasimu dan melampiaskan padanya yang mendapatkan posisi itu. Lagipula, mengalahkanmu apa? Memangnya kalian sedang dalam medan perang?"

"Aku benci dia," ucap Fin tidak ingin mendengarkanku.

"Tidak ada yang akan berubah walaupun kau membencinya, Fin."

"Padahal aku benar-benar tidak ingat kalau dia pernah jadi sainganku selama di sekolah dasar," Fin memberengut sampai keningnya berlipat-lipat. 

Ternyata ia tetap tidak mendengarkan.

***

Kuakhiri tulisan dalam buku. Terlalu banyak hal yang kuingat mengenai sahabatku, Fin, untuk dituliskan. “Sabar, Hapsa,” kataku pada diri sendiri melawan perasaan terburu-buru ingin segera menyelesaikan cerita ini. 

Cerita ini harusnya menjadi sebuah catatan perjalanan Fin yang tidak boleh terungkap. Tapi daripada itu, cerita ini harusnya menjadi sebuah memoar lengkap yang kelak akan dinikmati orang yang membacanya dengan perasaan pernah mengalaminya. Kuharap, paling tidak, Fin akan membacanya dengan bahagia.

Hayo, mau komen apa coba?

Link aktif akan langsung ditandai sebagai spam, sebagai alternatif bisa pilih comment as menggunakan Nama/URL ya :)
EmoticonEmoticon