22 Aug 2016

Unstoppable Love (?) Bagian Dua

Unstoppable Love (?) Bagian Dua - “Kenapa kau tidak mengajaknya?” tanyaku pada Fin ketika kami sampai di sebuah toko pakaian dalam, di mal yang ada di tengah kota. Ini adalah toko terakhir yang akan kami kunjungi untuk hari ini. Kulihat kedua tanganku, telah bergantung beberapa tas belanja dari toko sebelumnya. Kurasa, cukup untuk hari ini.

“Dia tidak akan suka pergi ke tempat seperti ini. Dia kan pemalu,” Fin melenggang ke counter lingeri. Setelah melihat-lihat sebentar, Fin meminta beberapa stel pakaian dalam yang bentuknya, menurutku, mengerikan. Apa? Sejak kapan selera Fin semakin kompleks seperti ini?

“Menurutmu, lebih terlihat bagus yang mana kalau kukenakan?” dua stel lingeri yang bentuknya serupa dengan warna yang berbeda menggantung di kedua tangannya. “Hitam? Merah?”

Unstoppable Love (?) Bagian Dua
Unstoppable Love (?) Bagian Dua
Aku berdecak sebal. Hitam dan merah adalah dua warna favoritnya. Meskipun aku ngotot mengatakan bahwa hitam akan terlihat lebih menarik, dia akan berargumen bahwa merah akan lebih seksi. Aku hapal betul dengan tabiatnya satu ini. “Kau tidak akan memilih, ambil saja keduanya.”

Fin menarik lebar bibirnya yang memperlihatkan gigi gingsul kanannya lalu pergi ke kasir untuk melakukan pembayaran dengan langkah riang. Kalau tidak kuingatkan, hampir saja ia melompat-lompat seperti anak kecil yang mendapatkan setoples cokelat secara cuma-cuma.

Jam dinding menunjukkan pukul tujuh tiga puluh ketika aku sampai di rumah. Seperti biasa, adik laki-lakiku pasti sedang bersama teman-teman sekolahnya di lantai atas. Mereka biasa membuat kegaduhan dengan menghidupkan petasan di atap rumah meskipun sudah berulang kali kularang.

Ping. Ponselku berbunyi. Ada beberapa panggilan tak terjawab dan beberapa pesan rupanya. Aku menyempatkan mandi dan menyiapkan makan malam untuk adikku dan teman-temannya sebelum memeriksa kembali ponselku. Dua panggilan dan satu pesan gambar dari Alex dan satu pesan dari Fin yang menanyakan apakah aku sudah sampai di rumah atau belum.

“Baru sampai di rumah?” satu kali nada sambung dan suara Alex terdengar di ujung telepon. Aku tahu, dia pasti kesal karena aku tidak memberinya kabar sore ini sepulang dari kantor.

“Iya,” aku meringis agar Alex tidak meneruskan kekesalannya. “Apa yang sedang kau lakukan?”

“Menanti kekasihku memberi kabar,” ucapnya dengan nada yang lebih rendah dari sebelumnya. “Tapi sepertinya kekasihku lupa memiliki kekasih yang sedang menunggu kabarnya.”

Aku meringis sekali lagi. “Kau manis sekali,” godaku dan aku yakin di seberang sana Alex sedang tersenyum. “Aku menemani Fin berbelanja.”

“Oh,” ada jeda sejenak sebelum Alex melanjutkan, “kalau ada yang bisa kubantu, katakan saja. Sepertinya Fin terlihat stres saat terakhir kali aku bertemu dengannya.”

“Sedikit, tapi tidak ada yang perlu dicemaskan. Sekarang dia sedang menikmatinya,” mungkin Alex sedang mengangguk-angguk seperti yang biasa ia lakukan ketika mendengarkanku berbicara. “Baiklah, Pak Alex, aku akan berisitrahat. Kau, sebaiknya juga segera beristirahat.”

“Baiklah. Selamat malam, Sa...” aku segera memutuskan hubungan telepon sebelum Alex menyelesaikan kalimatnya. Sungguh, dadaku berdebar-debar bahkan sebelum kudengar dengan lengkap kata-kata mesranya itu. Aku merasa belum benar-benar tahu harus menjawab panggilan sayangnya padaku dengan apa.

Aku dan Alex adalah rekan kerja sebelumnya, aku sebagai staf keuangan dan Alex adalah kepala bagian keuangan di kantorku. Ia pria yang selama kukenal, dua tahun kerja bersama, tidak pernah bersama wanita lain. Enam bulan lalu Alex memutuskan pindah ke ibu kota karena ia mendapatkan pekerjaan yang menurutnya lebih ia sukai, di sebuah perusahaan periklanan. Setelah berpisah selama itu, dua minggu lalu ia datang menemui dan memintaku untuk mengenalnya lebih dekat. Jadi, wajar saja kalau sampai saat ini aku masih berusaha menerima caranya mendekatiku.

Kulirik fotoku dan Alex yang masih terlihat malu-malu di atas meja kerjaku. Foto itu baru seminggu yang lalu diambil di sebuah photobox salah satu pusat perbelanjaan. Di sampingnya kuletakkan buku yang kemarin malam kutulis sedikit hal mengenai Fin. Mungkin aku bisa menuangkan sedikit hal lainnya di dalam buku itu malam ini.

***

September 2010
Fin menelpon saat aku sedang mengikuti seminar ekonomi oleh seorang profesor di tempatku berkuliah. Dengan terpaksa kutolak panggilannya dan segera mengirimkan pesan singkat.

Seminar. I’ll call you back. Hapsa.

“Apakah kita masih harus berlama-lama di sini?” bisik Eva sambil menyikut lenganku pelan.

“Entahlah. Tapi sepertinya, aku harus pergi sekarang.”

“Apa?” ketika aku melihat Eva berbalik untuk mengatakannya, aku sudah sampai di pintu belakang untuk melarikan diri. Eva memberengutkan wajahnya, ia pasti kesal karena aku tidak mengajaknya melarikan diri dari seminar membosankan itu.

***

“Bukankah kau membencinya? Bagaimana mungkin?” tanyaku tidak percaya pada Fin di kafetaria yang kami janjikan untuk bertemu. Fin sepertinya tidak mendengarkanku. Ia mendekap erat ponselnya dengan sebuah senyum yang tak habis-habis sejak aku melihatnya di kejauhan. Tubuhnya bergoyang-goyang seperti orang mabuk. Sekarang aku tahu bahwa bukan hanya alkohol yang bisa memabukkan manusia, tetapi perasaan jatuh cinta.
Unstoppable Love (?) Bagian Dua-1
Unstoppable Love (?) Bagian Dua
“Kau dengar aku? Dia bahkan pernah menyukaiku saat kita masih di kelas tujuh! Dan kalau kuingat-ingat, saat itu adalah masa-masa terburukku, kau tahu kan? Aku lebih seperti anak laki-laki daripada perempuan,” ujar Fin masih dengan tatapan penuh bunga pada ponselnya. “Dan dia bahkan menyukaiku lagi setelah kita bertemu di kelas sebelas. Hanya saja dia merasa tidak akan mampu melakukan seperti yang orang-orang lain lakukan ketika memiliki kekasih.”

Tiba-tiba aku seperti mengetahui sesuatu tetapi otakku menolak untuk ingat apa itu. “Maksudmu?”

“Dia bilang, semua orang yang memiliki kekasih akan pergi hang out, makan di kafe, nonton film baru di bioskop, dan banyak hal lainnya. Sementara dia merasa tidak bisa melakukan semua hal itu karena keadaannya tidak memungkinkan.”

“Omong kosong,” grutuku, tapi segera kuralat ketika mengingat semua teman-temanku yang memiliki kekasih memang melakukan semua hal itu. “Tapi benar juga. Semua temanku juga melakukannya.”

“Kau sendiri tahu, kan, Alambana itu dari keluarga seperti apa. Kau bahkan pernah pergi ke rumahnya, di acara perayaan ketika ia mendapat juara olimpiade, kan? Di kelas duabelas?”

Pertanyaan Fin mengingatkanku kejadian saat itu. Alambana mengundang teman-teman sekelas ke rumahnya untuk merayakan kemenangan olimpiade tingkat SMA yang ia ikuti saat itu. Aku ingat Fin tidak bisa ikut karena ia harus pulang bersama kakak laki-lakinya. Dan jujur kuakui, aku sempat terkejut ketika sampai di rumah keluarga Alambana. Ia tinggal tidak jauh dari sekolah, di daerah yang semua rumah berdempetan dan tidak memiliki halaman depan, dan bagian belakangnya adalah sawah luas sejauh mata memandang. Aku ingat sekali karena hal itu membuatku merasa malu. Bagaimana Alambana yang kuketahui kemudian bahwa ibunya pedangang kecil di pasar dan ayahnya pensiunan karyawan perusahaan kecil, dapat bersekolah dan menimba ilmu dengan sungguh-sungguh. Sementara aku yang selalu dicukupkan oleh kedua orangtuaku yang memiliki pekerjaan bagus, hanya bersekolah sambil bermain-main. Dan seperti tak habis dibuatnya takjub, ia bahkan bersyukur dengan cara mengundang teman-teman sekelas untuk merayakan apa yang telah ia raih.

“Kau benar,” ucapku lirih. “Dia benar-benar orang yang sederhana.”

“Ya. Dan karena itu aku benar-benar bersyukur.”

“Dan aku yakin, tidak seorang pun tahu bahwa dia menyukaimu, kan?”

“Tepat sekali!” jawab Fin cepat. “Teman-teman dekatnya seperti Diyan dan Restu juga mengatakan hal yang sama padaku. Padahal kita tahu bagaimana dekatnya mereka seperti keluarga sendiri, bukan?”

Aku mengangguk-angguk. Fin kembali berkutat dengan ponselnya, sesekali tersenyum, sesekali manyun-manyun lucu, dan sesekali melipat keningnya. Ternyata perasaan yang sering disebut-sebut cinta itu sesuatu hal yang kompleks, bisa membuat pengidapnya bertingkah lucu, aneh, dan menyebalkan dalam waktu yang bersamaan. 

“Omong-omong, sejak kapan kalian menjadi dekat? Kau bahkan tidak menceritakannya padaku.”

“Oh!” Fin tiba-tiba berseru, membuat orang-orang di sekitar kami meliriknya. Fin memelototkan matanya terkejut, aku lebih terkejut lagi sampai hampir tersedak jus jeruk yang kuseruput. “Kau tahu tidak bahwa ternyata kami sudah berada di sekolah yang sama sejak di taman kanak-kanak? Aku juga tidak ingat, tapi dia memberitahukannya padaku. Ah, dia pasti sangat menyukaiku, kan?”

Nah, benar, kan. Dia benar-benar meyebalkan. Sama sekali tidak mendengarkan ucapanku. Ia hanya terus meracau bahwa ia berpikir bahwa ia mencintai laki-laki itu. Kukatakan untuk mengatakan hal itu pada Alambana, tetapi ia menolak dengan cepat. Ia lalu berbicara tentang dirinya sendiri bahwa ia pemalu, tidak mungkin mengatakan hal-hal seperti itu pada laki-laki, terlebih selama kami SMA, semua teman laki-laki di kelas kami—mungkin Alambana tidak termasuk—menganggap Fin adalah teman sesama jenis mereka: laki-laki.

Ya, benar sekali. Semua perilaku, cara berpakaian, dan cara berpikir Fin memperlihatkan bahwa ia lebih seperti laki-laki dibandingkan perempuan. Tapi siapa yang tahu bahwa di balik penampilannya itu, ia adalah orang yang kikuk, pemalu, dan kaku, bahkan humoris. 

Pernah suatu hari di jam olahraga kelas tujuh di musim kemarau, hampir semua murid perempuan mengeluh karena harus berkeringat dan berdebu di lapangan sepak bola, Fin yang paling duluan berbaris di lapangan bersama anak laki-laki dengan memakai topi olahraga yang dibalik. Bahkan saat itu beberapa anak laki-laki dan kakak kelas melihatnya sambil geleng-geleng kepala. Ia satu-satunya yang bersemangat untuk berolahraga di saat matahari sedang terik-teriknya. Atau ketika di kelas dua belas, dimana semua perempuan, paling tidak memakai alas bedak dan mulai berpikir tentang kosmetik, Fin dengan santainya datang ke sekolah mengenakan celana panjang olahraga di balik rok abu-abunya. Aku ingat sekali, hari itu adalah hari pemotretan untuk sertifikat kelulusan dan buku kenangan, Fin baru pergi ke salon dihari sebelumnya, ia memangkas rambutnya sangat pendek dan tipis dibagian kanan dan kiri. Jadi, tidak heran jika suatu hari siapapun yang melihat sertifikat kelulusan SMA milik Fin, beranggapan bahwa Fin adalah laki-laki.

Sepertinya percuma saja bicara pada Fin saat ini. Ia benar-benar dimabuk cinta. Ia tak melepaskan sedetik pun pandangan dari ponselnya. Sebentar-sebentar sebuah pesan singkat masuk dan dengan cepat ia membalasnya. Kemudian entah karena apa ia meringis-meringis kesenangan. Aku bersumpah, ini adalah pertama kalinya aku melihat Fin sebahagia itu.

***

Hayo, mau komen apa coba?

Link aktif akan langsung ditandai sebagai spam, sebagai alternatif bisa pilih comment as menggunakan Nama/URL ya :)
EmoticonEmoticon