24 Aug 2016

Unstoppable Love(?) Bagian Empat

Unstoppable Love(?) Bagian Empat - “Aku akan bertanya sekali lagi padamu.” Aku menjawab ragu-ragu. Sebelum bertanya lagi, Alex menatapku dengan tajam seolah-olah ia ingin menerkamku. Dadaku berdebar-debar, sepertinya jantungku ingin melompat keluar. Aku tahu apa yang akan ditanyakan Alex. Ia pasti akan bertanya tentang Jousef. (Jangan lupa baca juga: Unstoppable Love(?) Bagian Tiga)

Unstoppable Love(?) Bagian Empat 1
Unstoppable Love(?) Bagian Empat
“Apakah,” Alex terdengar ragu, “apakah pria yang kulihat kemarin adalah mantan kekasihmu?”

Apakah aku harus jujur padanya? Atau kubiarkan saja kesalahpaham ini? Aku juga ingin tahu bagaimana reaksinya kalau hubunganku dengan Jousef lebih dekat daripada sekadar mantan kekasih. Aku jadi ingat satu kejadian beberapa tahun lalu.

“Tapi, tapi,” Fin kelihatan panik, “aku kan hanya menggodanya. Aku hanya ingin tahu apakah dia benar-benar menyukaiku seperti yang dia katakan. Aku hanya ingin melihat apakah dia cemburu, itu saja.”

“Fin,” aku menarik nafas mendengar ceritanya. Dia benar-benar bodoh karena berbohong pada Alambana mengenai berapa banyak kekasih yang pernah dia miliki. “Bagaimanapun, dia tidak akan bertanya ‘siapa’ padamu. Mendengar kau pernah memiliki kekasih saja membuatnya sudah panas hati. Apalagi, apa kau bilang? Masing-masing sudah pernah kau cium? Kau pikir Alambana itu dewa yang tidak punya perasaaan marah dan kecewa?”

Fin meringkuk di ujung tempat tidurku. Mungkin ia baru sadar bahwa hal yang telah ia lakukan adalah perbuatan bodoh dan merugikan dirinya sendiri. “Aku hanya ingin melihat reaksinya. Lagipula, harusnya dia bertanya siapa saja orang-orang itu, kan? Tapi rupanya dia diam saja. Kurasa, kurasa... perasaannya tidak seserius seperti yang dia katakan.”

“Fin, dengarkan aku.” Fin segera menatapku lurus-lurus. Matanya sudah mulai berkaca-kaca penuh kekalutan. Aku rasa dia benar-benar menyesal melakukannya. “Alambana itu kekasihmu, tentu saja dia merasa cemburu. Dia juga mengakuinya, kan?”

Fin mengangguk cepat.

“Kalau pun dia hanya diam, mungkin saja dia tidak ingin lebih tersakiti lagi dengan lebih banyak mengetahui hal-hal yang tidak ingin dia ketahui. Sekarang dengarkan aku,” kali ini aku mendekati Fin dan berkata dengan sungguh-sungguh. “Ucapanmu tidak akan pernah bisa kau tarik kembali. Sekarang yang bisa kau lakukan adalah memperbaiki sikapmu. Jangan berbuat sesuatu yang tidak perlu. Oke?”

Saat itu Fin mengangguk seolah mengerti. Dan aku tersadar bahwa kali ini aku tidak mungkin berbuat hal yang sama bodohnya seperti yang Fin lakukan dulu. 

Bagi wanita, semua hal memang bisa menjadi rumit, terlebih masalah hubungan pribadi. Wanita itu selalu merasa ingin diperhatikan, dimengerti keinginannya, bahkan sampai ingin dicemburui segala—dan begitu dicemburui, wanita suka merasa tidak dipercayai. Tapi mengingat keadaan Fin waktu itu, kurasa wajar saja ia melakukan hal-hal bodoh pada hubungannya dengan Alambana. Kalau kuingat sekarang, rasanya ingin tertawa mengetahui Fin mengaku bahwa ia pernah memiliki empat kekasih sebelumnya yang masing-masing pernah ia cium. Jangankan cium, pacar saja Fin tidak pernah punya sebelumnya. Alambana adalah laki-laki pertama baginya. Laki-laki pertama dalam hidupnya. Mungkin karena itu pula—pernah dengar ungkapan ‘bagi wanita, pria pertamanya adalah yang paling istimewa?’—sulit bagi Fin mengusir bayang-bayang Alambana dalam  hidupnya.

“Jadi, apakah kau mau menjawab pertanyaanku?” suara Alex terdengar mulai tidak sabar. Aku meringis dan menarik nafas sebelum menjawab pertanyaannya. “Jangan coba berbohong padaku,” ia mengingatkan.

“Pria itu Jousef,” Alex mengangguk-angguk mendengar kalimat pertamaku. “Aku dekat sekali dengannya karena kami sudah mengenal sejak kecil.”

“Jadi, kalau sudah kenal sejak kecil, kau bisa menempel terus padanya, seperti kemarin? Jauhi dia. Aku cemburu melihatnya,” wajah Alex memerah dengan cepat. Mungkin baginya, mengakui dirinya cemburu  adalah hal yang memalukan. Tapi membuatku merasa senang.

“Tapi aku tidak mungkin menjauhinya. Kami sangat akrab, Lex.”

“Oh, jadi karena akrab kau tidak mau kehilangannya?”

“Bukan hanya itu. Selain sudah kenal lama, akrab, dan dia juga sering membantuku, dia juga sepupu mama.”

“Ah, aku tahu. Kau mencari-cari alasan agar tidak kehilangan dirinya, kan? Memangnya kenapa kalau dia... apa? Sepupu?” ekspresi Alex kebingungan. Ia salah tingkah dengan menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. 

Aku mengangguk pelan. Saat ini aku jadi ingin sekali menggodanya. “Tapi kalau menurutmu, sebaiknya aku tidak dekat-dekat dengannya...”

“Kamu menggodaku, kan?”

Kami berdua saling tatap, lalu detik berikutnya tawa kami pecah bersamaan. Satu sisi lain Alex barusaja kuketahui dan hal itu membuatku senang bukan main. Satu-satu, rasa bahagia yang dulu hanya bisa kulihat melalui teman-temanku, kini mulai kurasakan.

Fin benar ketika dulu ia mengatakan hal ini padaku dengan wajah berseri-seri, “Semakin banyak kau mengetahui sesuatu tentang kekasihmu, maka kau akan semakin jatuh cinta padanya.”

***

Juli 2011
Aku tahu Fin senang sekali malam ini. Dyan, Restu, dan Alambana mengantarnya pulang setelah pukul sepuluh malam dari pesta rakyat yang diadakan di pusat kegiatan olahraga kota. Sejak lepas senja, kami dan beberapa teman SMA pergi bersama-sama ke acara itu.

Aku tahu sekali Fin tidak menyukai tempat semacam itu, apalagi harus pergi dalam rombongan diantara lautan pengunjung lain, tubuh Fin yang kecil memudahkannya tersesat karena ia kesulitan melihat jalanan di hadapannya. Aku juga tahu Fin tidak akan mudah mendapat izin keluar malam dari ayahnya, tapi entah apa yang ia lakukan untuk merayu ayahnya hingga ia diperbolehkan keluar bersama kami malam ini. Dan aku tahu pasti, alasan Fin ikut ke tempat dan suasana yang tidak disukainya ini hanya karena Alambana. Laki-laki itu mungkin tidak menyadarinya, tapi aku adalah teman yang bodoh kalau tidak mengetahui bahwa Fin masih mengharapkannya kembali. 

Sejak pertama bertemu laki-laki itu, Fin terus menatapnya sambil mengulas senyum. Sesekali, ia menatap laki-laki itu dengan pandangan sendu.

Ketika hubungan Fin dan Alambana dimulai, laki-laki itu sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri di ibukota, sehingga mereka menjalani hubungan jarak jauh yang kemudian hari harus berakhir. Setelah lulus dari pendidikannya, Alambana mendapat penempatan magang di kantor pemerintahan di kota ini untuk satu tahun. Dan seperti yang sudah kuduga sebelumnya, Fin selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan laki-laki itu meski saat ini status mereka hanya sebatas teman.

“Kau tidak ikut masuk ke dalam?” Alambana bertanya pada Fin sebelum laki-laki itu masuk ke wahana rumah hantu bersama yang lainnya. Fin menggigit bibir bawahnya sambil menggeleng. “Baiklah, tunggu di sini saja ya. Kami akan segera kembali.”

“Kau mau aku menemanimu, Fin?” tanyaku yang dibalas Fin dengan gelengan cepat. Ia memberi kode dengan tangannya bahwa ia akan baik-baik saja. Lagipula ia tidak sendiri, dua teman kami yang lain juga tidak ikut karena mereka semua penakut.

Wahana itu hanya wahana kecil dengan durasi perjalanan empat menit, setelah kami semua berhasil keluar dengan tubuh berkeringat karena kejutan-kejutan dahsyat di dalamnya, Fin dan dua teman kami yang lain sudah menunggu dengan wajah berseri-seri dan senampan kopi dalam gelas kertas.

“Kopi?” Fin membawa dua gelas dan menyerahkan satu pada Alambana setelah memberikan gelas lainnya padaku. Pundakku lemas seketika. Melihat Fin benar-benar sedang berusaha memperbaiki hubungannya dengan laki-laki itu membuatku merasa kesal. Aku tidak tahu apa yang laki-laki itu pikirkan, tetapi aku merasa bahwa ia sama sekali tidak berusaha menghentikan Fin yang sedang mencoba mendekatinya, sementara ia sendiri tidak melakukan apapun.

Sejujurnya, aku juga tidak pernah tahu alasan mereka tidak bersama lagi. Fin hanya mengatakan bahwa ia tidak mungkin memaksa laki-laki itu untuk mempertahankannya. Alambana punya alasan yang kuat untuk meninggalkannya dan banyak hal lain yang Fin sampaikan padaku untuk menutupi alasan sebenarnya perpisahan mereka. 

Dengan asumsi Fin yang melakukan kesalahan, aku berpikir bahwa wajar jika Fin berusaha memperbaiki hubungan mereka. Hingga saat ini, Fin sudah melakukannya selama hampir satu tahun, tidakkah laki-laki itu mengerti apa yang Fin coba lakukan untuknya?

Unstoppable Love(?) Bagian Empat
Unstoppable Love(?) Bagian Empat
Keesokan harinya, saat aku menemui Fin di kampus, kulihat matanya sembab, wajahnya pucat dan terlihat lusuh, dan tubuhnya lemah. Yang kami lakukan malam sebelumnya mungkin membuat Fin berbahagia, tapi di sisi lain, Fin pasti segera memikirkan realitas yang sedang ia hadapi. 

Fin adalah perempuan naif yang mencoba hidup dengan realitas. Meski tidak bisa berhenti berusaha untuk hal-hal yang ia coba pertahankan, tetapi Fin pasti tahu bahwa ia dan Alambana akan sulit untuk bersama kembali. 

Sudah pasti ia menangis lagi semalaman. 

***

Hayo, mau komen apa coba?

Link aktif akan langsung ditandai sebagai spam, sebagai alternatif bisa pilih comment as menggunakan Nama/URL ya :)
EmoticonEmoticon