23 Aug 2016

Unstoppable Love(?) Bagian Tiga

Unstoppable Love (?) Bagian Tiga - Beberapa bulan sejak Fin mengatakan bahwa ia mencintai laki-laki itu, ia menemuiku dan bercerita banyak hal tentang bagaimana ia sudah benar-benar hampir gila karena rasa bahagia yang sedang ia rasakan. 

Aku tahu sekali, Fin termasuk orang yang sensitif, ia mudah tersentuh dengan hal-hal dan kata-kata baik, dan ia tipe orang yang sulit sekali melupakan kebaikan orang lain. Ia sepertinya merasa sangat bahagia dapat mengenal Alambana sedikit demi sedikit sambil berjalannya waktu. Seolah setiap hal baru yang ia ketahui mengenai kekasihnya membuatnya semakin bahagia. 

Terlalu banyak cinta. Mungkin hal itu yang terjadi kepada Fin. 

Kebahagiaan Fin yang kulihat saat itu tidak bertahan lama. Suatu malam Fin menelponku. Awalnya ia mengingat-ingat dan menceritakan hal-hal lucu sampai aku hampir tersedak karena terlalu banyak tertawa, tapi kemudian ia menanyakan kabar semua teman-teman lama kami dan mengatakan kalau ia merindukan segala hal yang terjadi selama di SMA, sampai akhirnya tiba-tiba suara Fin terdengar serak dan sengau, hidungnya mulai tersumbat, dan detik berikutnya ia mulai menangis tersedu-sedan sampai hampir kehabisan nafas. 
Unstoppable Love (?) Bagian Dua (2)
Unstoppable Love (?) Bagian Dua (2)
Aku berusaha menenangkannya, tetapi mustahil tentu saja. Apa yang bisa membendung perasaan yang tulus, baik itu kebahagiaan atau kesedihan? Tidak ada. Fin tidak mengatakan apapun, ia hanya menangis dan terus menangis. Aku yang tidak paham, dan tidak berpengalaman, merasa bingung setengah mati menghadapinya. Pada akhirnya, aku malah ikut menangis bersamanya.

***

"Kau baik-baik saja?" tanyaku keesokan harinya.

Seharusnya pertanyaan itu tidak perlu kulontarkan, tapi tidak ada yang bisa kulakukan selain berusaha menghiburnya. Aku tahu saat ini perasaan Fin sangat kacau. Terlebih ia tidak bisa menghindari hari ini untuk pergi ke kampus.

"Ya?" ia menatapku dengan wajah jenaka lalu beralih untuk memperbaiki kain songketnya yang tidak kencang bagian pinggangnya sambil melebarkan senyumnya. "Aku siap. Seribu persen sudah siap bahkan jika kalian nanti menertawaiku ketika aku melakukan kesalahan."

Hari ini adalah hari pentasnya untuk mata kuliah Pentas Seni yang dibuka untuk penonton umum. Sudah sebulan lebih Fin mempersiapkan pementasan tari bersama kelompoknya, ia memintaku datang di hari ini, dan aku sudah berjanji untuk datang. Tapi mengetahui apa yang terjadi semalam, membuatku agak khawatir.

Fin sudah cukup sering mengalami insomnia tanpa alasan dan teleponnya semalam membuatku yakin bahwa ia sama sekali belum tidur hingga saat ini. Wajahnya pucat sekali. Meskipun menggunakan sedikit riasan untuk kepentingan pentas seni, wajahnya tetap saja tidak terlihat baik.

"Tunggu, Fin," kugapai lengannya ketika ia hendak pergi bergabung dengan kelompok tarinya. Ia menghindari menatap mataku berlama-lama. Aku hapal benar gelagatnya ini. Fin tidak akan bisa berlama-lama menatap orang lain ketika ia sedang merasa sedih atau ia akan dengan mudah menangis. Aku ragu untuk bertanya mengenai kejadian semalam melihat reaksinya yang canggung dan aku berakhir menyemangatinya, "Kau pasti bisa melakukannya. Semangatlah!"

"Yosh!" katanya sambil mengangkat kedua tangannya yang terkepal. Menyemangati dirinya sendiri dengan sisa tenaga yang ia miliki.

Pementasan tari kelompok Fin berjalan selama delapan menit. Meskipun ada beberapa kesalahan atau keterlambatan gerak yang dilakukan Fin, ia tetap bisa menyelesaikan tari itu dengan baik. Mereka memeroleh nilai B plus dari tiga dosen penilai dan hal itu membuat mereka cukup puas.

Setelah pementasannya selesai, aku segera pergi ke balik panggung. Kulihat Fin sedang mencopot kain songketnya di tempat terbuka itu, aku pasti berpikir ia gila kalau tidak mengenalnya dengan baik. Fin pasti tidak akan mau repot-repot mengenakan kain songket tanpa celana panjang di dalamnya, aku mengetahuinya sejak pertama kali ia mulai bergerak mengikuti irama karena kemudian kainnya terlihat makin menggembung.

"Jadi, kau akan mentraktirku makan siang, kan?" Aku tidak punya ide bagaimana seharusnya aku bersikap, jadi aku berusaha bersikap seperti biasanya. Fin melebarkan senyum meski bisa kupastikan ia berusaha keras melakukannya. Kami pergi ke rumah makan sederhana yang menyajikan menu masakan rumahan.

Apakah Fin baik-baik saja? Oh, tentu saja tidak. Satu hal lagi yang bisa memastikan bahwa Fin benar-benar dalam keadaan tertekan adalah caranya makan. Fin makan apapun yang ada di hadapannya, banyak sekali. Berbeda denganku yang tidak akan nafsu makan ketika menghadapi sebuah masalah, tubuh kecil Fin justru sanggup menampung semua makanan yang ia jejalkan ke dalamnya saat ia mengalami stres.

"Apakah kau tahu?" suara Fin terdengar lirih. Kami duduk di bawah salah satu pohon beringin terbesar yang ada di alun-alun universitas setelah selesai makan siang. Daunnya rindang. Udaranya sejuk. Kuharap dengan duduk di tengah keramaian dan kesejukan, bisa membuat perasaan Fin sedikit lebih rileks.

Ia terdiam cukup lama sampai ia memutuskan untuk melanjutkan ucapannya. "Aku tidak bisa memaksanya untuk mempertahankanku."

Aku menatap lekat-lekat Fin yang menatap lurus jauh di depannya. Mungkin ia sedang mengamati mahasiswa lain yang kebetulan lewat, atau melihat kuntum bunga bougenvil yang mulai mekar, atau ia tidak sedang memerhatikan apapun melainkan sedang berusaha untuk tidak meneteskan air mata.

Fin memaksakan diri untuk menyungging sebuah senyuman. Pahit sekali yang kulihat. Fin yang biasanya selalu ceria dan menganggap semua perkara mudah tiba-tiba berubah menjadi Fin penuh kekhawatiran.

“Fin,” ucapanku tidak selesai karena Fin cepat-cepat menimpali.

"Alambana punya alasan yang kuat untuk meninggalkanku meski, dia sendiri mengakui, berat melakukannya," kini Fin menatapku. Tatapannya kosong. Matanya yang coklat gelap itu terlihat dingin. "Tapi paling tidak, aku sudah berusaha, kan?"

Pertanyaan Fin seperti ia lemparkan untuk dirinya sendiri. Ia bergeming untuk beberapa saat dan aku masih belum tahu apa yang harus kulakukan untuknya.

"Aku tidak menyesal," tiba-tiba raut wajah Fin berubah cerah. Nada suaranya terdengar antusias. Ia bahkan tersenyum seperti biasanya hingga menyembulkan gingsul kanannya. "Aku akan berusaha lebih kuat lagi. Aku akan buktikan bahwa aku pantas untuk dia pertahankan. Aku, aku akan berusaha, Hapsa. Mungkin menunggunya kalau dia mau, ya, aku akan menunggunya. Kurasa menunggu bukan hal yang sulit. Aku hanya harus berkonsentrasi pada apa yang kulakukan saat ini: kuliah, hang out, mengerjakan tugas, seminar, dan wisuda. Aku yakin aku pasti..."

Ucapan Fin diselesaikan dengan buliran air mata yang satu-satu berjatuhan ke pipinya. Dengan gerakan cepat ia menghapus air mata dengan punggung tangannya. Ia berusaha menyangkal bahwa ada lubang besar dalam hatinya, ia berusaha terlihat kuat seperti dirinya yang biasa, dan ia berusaha tidak menangis, tapi ternyata percuma. Air matanya terus mengalir tanpa bisa ia hentikan. Untuk pertama kalinya, aku melihat Fin tidak bisa mengontrol emosinya sendiri.

Aku segera meraih tangan Fin dan meremasnya kuat-kuat berharap rasa sakitnya akan mengalahkan pedih di hatinya. Aku biarkan ia tergugu dipundakku. Aku ingin, sekali saja, menjadi kekuatan bagi sahabatku.

***

Hayo, mau komen apa coba?

Link aktif akan langsung ditandai sebagai spam, sebagai alternatif bisa pilih comment as menggunakan Nama/URL ya :)
EmoticonEmoticon