17 Aug 2016

Upacara 17-an Pertama

Tags

Upacara 17-an PertamaHello, it’s me. I was wondering if after all... eh.. ini bukan lagu Adele lho. Setelah beberapa postingan, kali ini gue mau berbagi cerita dan pengalaman gue di sekolah. Seperti yang gue bilang sebelumnya di postingan Guru Galau Bagian Satu, bahwa blog ini adalah tempat gue bisa mencurahkan isi hati dan pikiran gue tentang profesi gue saat ini. Jadi, postingan-postingan gue selanjutnya pasti tidak jauh-jauh dari seputar sekolah tempat gue mengajar, tentang murid-murid gue yang super dahsyat, tentang beberapa isu di dunia pendidikan, dan tentang kesan-kesan gue berkecimpung di dunia yang sampai saat ini masih sangat antusias gue geluti, meski kadang masih sering gue galauin.

Upacara 17-an Pertama
Upacara 17-an Pertama
Saat ini gue bekerja di sebuah sekolah swasta yang bisa dibilang cukup elit. Elit karena bayaran SPP-nya lumayan mahal untuk kota kecil seperti kota tempat tinggal gue. Elit karena hampir semua muridnya diantar dan dijemput dengan mobil. Elit karena anak-anaknya suka sok borjuis—yang lebih milih beli sepatu harga jutaan daripada bayar denda pinjaman perpustakaan selama dua bulan. Elit karena uang jajan mereka rata-rata ngalahin biaya transport dan makan siang guru-gurunya. Oke, elit yang gue tuliskan adalah elit menurut pendapat gue ya, dan gue yakin kalian memiliki pengertian elit versi kalian sendiri.

Ini adalah tahun ketiga gue di sekolah ini, dan selama tiga tahun ini, gue sering bertanya-tanya mengapa sekolah gue justru tidak pernah aktif melakukan kegiatan di hari libur-libur nasional. Misalnya, disaat semua sekolah mengadakan acara Isra Miraj, sekolah gue libur. Di saat sekolah lain mengadakan acara Maulid Nabi, sekolah gue tetap libur. Dan waktu itu anehnya, hampir saja di hari libur Nyepi, sekolah gue mewacanakan untuk tetap masuk dengan alasan sekolah kami sedang dalam pekan ujian. Parah. Parah. Tapi untungnya tidak jadi sih. Dan... hari ini adalah pertama kali dalam tiga tahun terakhir sekolah kami melakukan upacara di hari perayaan kemerdekaan Republik Indonesia.

See? Maksud gue, mungkin karena sekolah tempat gue bekerja adalah sekolah swasta, yang punya yayasan juga perseorangan, jadi segala peraturan agak ekstrem yang dibuat oleh pihak manajemen, dianggap wajar selama disetujui oleh yayasan.

Gue baru saja selesai ikut upacara pengibaran bendera ketika menulis postingan kali ini. Ada satu hal yang membuat gue bahagia pada upacara hari ini. Seperti biasa, setelah upacara biasanya ada sesi pengumuman. Kali ini pengumumannya tentang hasil perlombaan Ki Hajar yang diikuti oleh siswa SMP dan SMA dua hari lalu. Salah satu peserta dari sekolah gue masuk tiga besar dan harus membuat presentasi dengan memanfaatkan ICT tentang tema yang ditentukan dalam waktu satu malam. Karena sebenarnya siswa gue ini aktif tapi belum punya pengalaman cukup untuk membuat makalah, jadilah gue dan rekan guru Bahasa Indonesia lainnya berusaha membimbingnya.

Malam kemarin gue tidur jam dua malam untuk menyelesaikan pengecekkan makalah yang sudah dibuat oleh siswa gue. Dan pagi harinya, dibantu dengan rekan gue, kami mem-fix-kan makalah itu. Memang sih, siswa gue tidak dapat juara pertama sehingga bisa dikirim ke tingkat Nasional, tapi pada pengumuman kali ini, ternyata waka kesiswaan juga mengucapkan terima kasih untuk para pembimbing. Dan hal itu sangat membuat gue bahagia.

Satu hal yang sering gue nilai kurang dari tempat gue bekerja adalah apresiasi manajemen ke guru-guru atas apa yang mereka lakukan untuk siswa dan sekolah. Selama ini, yang sering terjadi adalah, ketika guru-guru telah membimbing siswa dalam mengikuti lomba, yang selalu mendapat apresiasi adalah pihak manajemen itu sendiri. Kepala sekolah, wakilnya, dan bagian kesiswaan. Kalaupun belum menang, ya sudah, sampai di situ saja. Padahal mungkin bagi gurunya, ada perasaan beban saat siswa yang mereka bimbing belum bisa mengharumkan nama sekolah.

Maksud gue, bukannya sebagai guru gue suka dipuji-puji ya, tapi gue rasa apresiasi sekadar ucapan terima kasih itu bisa membangkitkan motivasi guru dalam melaksanakan tugasnya. Apalagi membimbing siswa dalam perlombaan itu adalah tugas tambahan di luar tugas pokok. Dan gue rasa, semua guru pasti dengan senang hati kok membimbing siswanya yang mengikuti lomba. Cuma memang ucapan terima kasih itu sangat enak didengar dan menentramkan hati. Guru juga manusia, gue cuma mau mengingatkan. Ha ha ha.

Yang pasti, saat ini perasaan dan mood gue sedang bagus. Gue berharap dan berdoa, semoga kelak, setiap ada pengumuman siswa kami berprestasi, ada sedikit apresiasi dari manajemen kepada guru-guru yang bersangkutan. Ucapan terima kasih. Dan tempat gue bekerja, akan jadi lebih baik lagi di masa yang akan datang dengan membangun hubungan yang baik antarpekerjanya.

Gue harap upacara 17-an pertama gue di sekolah ini akan menjadi titik perbaikan tempat gue pekerja. Seperti juga Indonesia. MERDEKA!!

Hayo, mau komen apa coba?

Link aktif akan langsung ditandai sebagai spam, sebagai alternatif bisa pilih comment as menggunakan Nama/URL ya :)
EmoticonEmoticon