19 Sep 2016

Cara Menghadapi Anak yang Berbohong

Cara Menghadapi Anak yang Berbohong - Gue paling suka dengan siswa yang meskipun nggak pintar--susah nyambung--tapi selalu bisa mengharagai gurunya. Oke, kembali lagi dengan urusan harga-menghargai guru seperti postingan-postingan gue sebelumnya. Tapi artikel kali ini selain bisa di-share ke orang-orang dengan profesi yang sama dengan gue, guru, mungkin juga bisa dibagikan kepada mereka yang sudah menjadi orangtua dan pernah mengalami hal serupa dengan gue.

Cara Menghadapi Anak yang Berbohong
Cara Menghadapi Anak yang Berbohong
Sumber Gambar: verywelldotcom
Gue selalu berusaha menanamkan rasa percaya ke siswa gue, nggak pernah berprasangka buruk bahwa mereka mungkin saja membohongi gue. Jadi, ketika ternyata mereka berbohong, maka gue merasa dikhianati, dan hal itu menyakitkan sekali buat gue. Gue juga paham betul bahwa berbohong itu normal. Berbohong itu salah, tapi masih normal. Karena toh pada kenyataannya, gue juga berbohong untuk beberapa hal dalam keadaan tertentu untuk menghindari sesuatu. 

Kenapa anak-anak berbohong?
Oke, di sini gue akan menganggap siswa-siswa itu anak gue sendiri. Jadi, memang seharusnya ya seorang guru jadi orangtua kedua setelah orangtuanya, apalagi di sekolah. Guru punya tanggung jawab besar kepada mereka.

Mereka berusaha membangun identitas. Identitas seharusnya menunjukkan jati diri mereka sesungguhnya. Tapi siswa gue, yang masih anak-anak, kadang berbohong untuk diterima orang-orang di sekelilingnya. Misalnya, teman-teman baru mereka. Mungkin menurut mereka, akan lebih mudah berbohong dan diterima daripada kesulitan menunjukkan diri sendiri yang mungkin memiliki banyak kekurangan. Begitu juga di hadapan guru. Mereka ingin guru melihat mereka yang 'baik' yang sesuai dengan harapan guru.

Mereka berusaha menghindari masalah. Dengan berbohong mereka berharap gue tidak akan memberikan hukuman karena mereka tahu bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah dan mungkin sekali mengecewakan gue. Misalnya, saat mereka tidak mengerjakan tugas karena lupa, mereka lebih memilih untuk menjawab, "Saya sudah mengerjakannya, Mi, tapi buku saya tertinggal di rumah." Dengan begitu, mereka berharap gue menerima alasan mereka selama mereka mengatakan bahwa mereka sudah mengerjakannya.

Mereka berusaha mencari perhatian. Tidak bisa gue pungkiri bahwa anak-anak seumur mereka--11 s.d. 12 tahun--adalah anak-anak yang suka mecari perhatian, meskipun salah satunya dengan cara berbohong. Misalnya, ketika mereka bilang, "Mi, saya sudah selesai." sementara mereka tidak benar-benar menyelesaikannya, dan hanya berharap gue datang untuk memeriksa. Ketika sampai di meja mereka, oke, gue sadar gue cuma dikerjai.

Mereka berusaha tidak menyakiti perasaan orang lain. Pada tahap ini, tentu saja tidak semua anak melakukannya. Hanya beberapa anak yang cara berpikirnya sudah jauh lebih dewasa daripada lainnya. Gue belum pernah menemukan murid gue berbohong untuk menjaga perasaan gue, kecuali, murid-murid gue yang sudah SMA.

Dari keseluruhan alasan mengapa anak-anak itu berbohong, gue bisa mengambil kesimpulan bahwa mereka berbohong karena mereka tidak memiliki solusi lain atau hal lain yang mampu mereka lakukan untuk menghindari masalah dengan orang-orang sekitarnya, termasuk gue, gurunya. Atau justru mereka cuma sedang berusaha menemukan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Oleh sebab itu, gue tidak pernah menuduh mereka berbohong. 

Tapi, saat gue mendapatkan alasan dan alasan yang kentara sekali dibuat-buat, gue rasa pantas dong gue merasa curiga. Atau, ketika gue mendapati siswa gue yang janji akan segera menyelesaikan tugasnya, tapi setiap ketemu dan gue ingatkan mereka selalu punya alasan yang absurd, tentu dong kecurigaan gue semakin besar.

Menghadapi anak yang berbohong.
Gue bisa mengambil beberapa pelajaran bagaimana menghadapi anak yang berbohong. Mungkin bisa diterapkan juga ke anak kandung ya, karena sebenarnya mereka semua hakikatnya sama; adalah anak-anak.

Jangan tanya kenapa dia berbohong. Iya, bener banget. Sudah tahu dia berbohong, ya kita nggak perlu tanya alasan kenapa dia berbohong. Itu adalah hal yang sia-sia, mereka justru akan lebih banyak mencari alasan untuk membernarkan kesalahan mereka. Kita bisa langsung tanya, misalnya karena dia tidak mengerjakan tugas, "Kesulitan apa yang kamu temui saat mengerjakan tugas?" dan mereka akan bicara jujur. Mungkin saja, mereka ketiduran karena seharian bermain di hari Minggu, jadi tidak sempat mengerjakan tugasnya.

Berikan pengertian yang jelas dan terarah. Kadang gue akui kalau siswa gue melakukan kesalahan, dan mood gue sedang tidak baik, maka gue akan dengan cepat tersulut amarah. "Kok kamu begitu, sih?" kalimat andalan gue keluar yang artinya gue sudah mencapnya dengan label 'pembohong' di jidatnya. Lalu detik berikutnya gue sibuk menyalahkan perbuatannya. Iya, itu adalah cara yang salah. Fokus pada apa yang dia lakukan--berbohong--dan memberikan konsekuensi yang akan dia terima karena sudah berbohong.

Apa yang harus dilakukan saat menangkap basah anak-anak itu berbohong?
Saat kita tahu dengan gamblang bahwa mereka berbohong, yang harus dilakukan pertama kali adalah menahan emosi. Benar sekali, berbicara saat emosi kita sedang memuncak adalah suatu hal yang bodoh yang mungkin kita lakukan. Bukannya memberikan nasihat yang baik dan berkenan di hati anak-anak itu, tapi ucapan kita justru akan terdengar menyakitkan bagi mereka sehingga mungkin, sedikit demi sedikit kepercayaan kepada kita, sebagai guru atau orangtua, akan pudar.

Ambil sedikit waktu untuk merencanakan apa yang akan kita katakan dan lakukan untuk menghadapi kebohongan mereka. Tentu saja kita harus punya persiapan untuk menyampaikan apa yang baik untuk mereka. Dan, paling tidak, hal ini membuat pembicaraan kita lebih terarah.

Lalu, cukup katakan apa yang kita ketahui. Tidak perlu menuduh ini dan itu yang jelas-jelas kita tidak mengetahuinya. Karena mungkin saja mereka memiliki alasan untuk melakukanya. Jadi, kalau mereka mengaku mengerjakan tugas sementara kita tahu bahwa dia tidak melakukannya, langsung saja katakan, "Temanmu mengatakan bahwa seharian kemarin kalian bermain bersama hingga semalam kamu tertidur lelap sebelum sempat mengerjakan tugas. Kamu bisa saja bermain hingga lupa waktu dan tugasmu, tapi ketidakdisiplinanmu itu ada konsekuensinya." Tanpa mendebatnya. Konsekuensi yang dinyatakan juga harus jelas. Berikan konsekuensi atas kesalahan yang dia lakukan, bukan karena kebohongan yang ia ciptakan.
Nah, itu dulu tips dan share yang bisa gue bagi untuk sesama guru yang pernah punya masalah sama dengan gue--menghadapi siswa yang berbohong--dan atau orangtua yang ternyata sedang menghadapi anaknya ketahuan berbohong. Semoga bermanfaat!

Hayo, mau komen apa coba?

Link aktif akan langsung ditandai sebagai spam, sebagai alternatif bisa pilih comment as menggunakan Nama/URL ya :)
EmoticonEmoticon