20 Sep 2016

Cerpen Rama-d(h)an-Nisa

Cerpen Rama-d(h)an-Nisa - Cerita pendek ini ditulis dalam rangka mengikuti lomba cerita pendek dengan tema ramadhan yang diadakan oleh Kafe Kopi dan dikirim pada 3 Juli 2015.

Rama-d(h)an-Nisa
[ditulis 3 Juli 2015]


Setelah Lebaran tahun lalu, mana ada aku memikirkan Ramadhan tahun ini akan bagaimana. Paling, begitu-begitu juga. Seperti biasanya. Kerja dari pagi, jadi guru Olahraga kelas satu, dua, dan tiga sekolah dasar. Siangnya mengajar les anak-anak sekolah menengah sampai sore. Saat buka puasa, semua makanan yang dimasak ibu sudah tersedia lengkap di atas meja. Shalat magrib berjamaah dengan orang tua. Shalat isya dan tarawih di masjid. Aku langsung tidur sepulangnya ke rumah, lalu bangun saat ibu menyiapkan sahur. Begitu melulu. Setap tahun, tidak banyak kontribusiku pada Ramadhan selain membuat tempe goreng atau sirop untuk buka puasa.

Setelah Lebaran, biasanya yang kupikirkan hanya bagaimana menurunkan berat badan setelah menyantap semua kue Lebaran di setiap rumah yang kutandangi ketika bersilaturahmi. Biasa, perempuan kebanyakan ruwet dengan masalah berat badannya sendiri. Meski dibilang kurus sekalipun, kalau melihat ada yang lebih kurus, maka sifat kompetitif timbul dalam hati untuk bisa lebih kurus lagi.

Tapi nyatanya, Ramdhan kali ini berbeda. Jauh dari yang kupikirkan sebelumnya. Melebihi ekspektasi baik dari yang terbaik atau sebaliknya. Tidak ada lagi rutinitas yang biasa kulakukan seperti Ramadhan sebelum-sebelumnya. Ramadhan kali ini adalah yang terberat sekaligus teristimewa bagiku.

Bulan besar tahun lalu, Dzulhijah dalam kalender Islam, Dulkangidah dalam kalender Jawa, atau Bulan Haji bagi yang tidak tahu, aku menikah dengan seorang pria yang dua tahun belakangan kucintai dengan segenap hati, kukasihi melebihi aku mengasihi kucing kesayanganku, dan kuminta pada Allah agar cepat mempersuntingku dalam setiap doaku yang ternyata doaku cepat diijabah oleh Allah. Kam menikah dan memutuskan untuk hidup terpisah dari keluarga kami. Kami menikah kemudian berniat untuk mandiri.

Seperti pengantin baru kebanyakan, aku juga suamiku mengalami masa transisi yang penuh kejutan-kejutan kecil hingga besar yang bergejolak. Ada masanya hubungan kami harmonis dan penuh romantisme yang berlebihan, tapi ada juga masalah sepele yang mengakibatkan tercetusnya perang dingin untuk beberapa waktu. Tidak terkecuali pada Ramadhan kali ini.

Karena kebiasaan burukku tidak terlalu peduli dengan proses penyiapan puasa pada Ramadhan-ramadhan sebelumnya, dalam artian, puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tapi puasa bisa terlaksana sejak sahur hingga waktunya berbuka, aku mengalami sedikit hambatan menyelesaikan semua tugas seorang istri dalam bulan penuh berkah kali ini. 

Di hari pertama, suamiku harus lebih dulu bangun dan membangunkanku pukul tiga dini hari untuk menyiapkan sahur. Ia tahu betul, kemampuan memasakku buruk dan lambat, kalau tidak sedini mungkin, ia khawatir sampai adzan subuh berkumandang, aku belum selesai memasak untuknya. Untungnya suamiku memiliki toleransi yang besar pada hal ini. 

“Buatku makan apa saja tidak masalah, Nisa, istriku. Yang penting kamu masak yang banyak, nanti aku habiskan,” kata Rama sehari sebelum memasuki bulan Ramadhan.

“Kalau aku mencoba menu baru, tapi ternyata tidak enak bagaimana?”

“Ya tinggal dibuang.”

“Apa?”

Rama terbahak-bahak melihat reaksiku. “Selama kamu masak dengan bumbu dapur, bukan dengan pisau cukur, pasti enak rasanya.”

Aku tersipu mendengar jawabannya. Maka niatku membuatkan hidangan layak dan aman konsumsi bagi suamiku pun berkilat bersahut-sahutan dengan petir menyambar-nyambar.

Karena Rama adalah pekerja kantoran, ia bekerja dari pukul sembilan hingga lima sore. Selama itu, aku menyelesaikan pekerjaan rumah karena pekerjaan sebagai pengajar di sekolah dan les libur, bersyukur Ramadhan kali ini bertepatan dengan libur akhir tahun ajaran. Dari menyapu, mengepel, mencuci piring, mencuci baju, menyetrika, sampai harus menyiapkan bahan makanan untuk dimasak sebagai hidangan berbuka, semuanya harus kukerjakan sendiri. Lagi-lagi suamiku memiliki toleransi yang tinggi untuk masalah berbuka. 

Beberapa hari lalu, Rama berdiri di depan pintu sambil mengamatiku yang tertidur di ruang tamu. Aku kaget bukan main ketka kudengar sayup-sayup suara adzan, ternyata tidur siangku kebablasan sebelum aku sempat menyiapkan hidangan untuk berbuka. Maka yang bisa kulakukan hanya membuatkan menu buka puasa alakadarnya. Kupikir Rama akan marah tapi tidak. Ia menikmati hidangan buka puasa alakadarnya di teras rumah sambil mengamati langit berwarna jingga dan ternyata diam-diam membuat status di akun sosialnya yang kulihat keesokan harinya: Langit jingga, secangkir kopi, selembar roti, dan istri yang menemani. Alhamdulillah.

Tentu saja semua pekerjaan itu membuatku kelelahan. Untungnya pekerjaan paruh waktu di kedai kopi yang sebelumnya kujalani sudah kuhentikan sejak menikah. Tidak bisa kubayangkan bagaimana lelahnya bila pekerjaan itu masih kujalani demi egoku yang ingin memiliki uang dari hasil kerja kerasku sendiri. Belum lagi ditambah dengan ibadah-ibadah lain dan sunnah rasul yang harus kutunaikan. Kalau tidak belajar membagi waktu—dari ibuku—dengan baik, maka habis sudah tenagaku. 

Hari ini tepat hari ke lima belas di bulan Ramadhan, banyak hal-hal mengejutkan yang kulalui selama dua pekan terakhir, juga banyak hal yang kupelajari dari suamiku dan bulan Ramadhan ini sendiri. Diantara semua kesulitan dan kepayahan yang kulalui, aku mash bersyukur Allah mengikatku satu bersama dengan suamiku. Dengan semua keterbatasan yang kumiliki, semua hal yang suamiku miliki melengkapinya. Allah Maha Baik.

Aku hanya harus mulai berpikir, apakah Ramadhan selanjutnya akan sama tidak terduganya dengan Ramadhan kali ini?

Mungkin saja.

Cerpen Rama-d(h)an-Nisa selesai.

Hayo, mau komen apa coba?

Link aktif akan langsung ditandai sebagai spam, sebagai alternatif bisa pilih comment as menggunakan Nama/URL ya :)
EmoticonEmoticon