15 Sep 2016

La Mar {Prolog}

La Mar {Prolog} - I cannot even imagine where I would be today were it not for that handful of friends who have given me a heart full of joy.* Kalau bukan karena sahabat-sahabat tengil yang selama ini selalu menemani, meski kadang dengan cara yang tidak normal, tidak mungkin klub ini bisa bertahan di bawah tekanan OSIS yang biadab itu selama dua tahun terakhir.

Klub drama pernah berada di titik dimana semua siswa bangga ketika ada yang membicarakannya. Tiap kali pertunjukkan digelar, tidak pernah satu kali pun tiketnya tidak laku. Penontonnya tidak hanya datang dari kalangan siswa SMA Budi Pekerti Luhur, tapi juga dari sekolah-sekolah lain yang dengan suka rela mengirimkan kontingennya untuk menikmati sajian drama berdurasi empat puluh menit.

La Mar {Prolog}
La Mar {Prolog}

Lain dulu, lain sekarang. Sejak insiden heboh yang menimpa klub drama tujuh tahun silam, klub ini bagai motor yang kehilangan mesin. Lumpuh. Apalagi karena insiden tersebut, beberapa orang harus rela keluar dari sekolah, termasuk Damar Alvian--sang legenda klub drama ini sendiri. Laki-laki itu menjabat sebagai ketua klub saat insiden itu terjadi. 

Tidak ada yang tahu persis apa yang telah terjadi tujuh tahun silam. Pihak sekolah juga terkesan menutup-nutupi kejadian luar biasa itu. Kalaupun ada yang mengetahui perihal insiden secara rinci, mereka memilih untuk tidak membicarakannya lagi. Yang lalu biarlah berlalu, kata mereka. Tapi yang jelas, sejak saat itu, nasib klub drama sama sialnya dengan klub membaca yang sepi peminat. 

Awalnya, dua tahun lalu, OSIS yang saat itu diketuai Rezia Sanandra Irgi mengusulkan untuk menutup klub drama dengan berbagai macam alasan. Petisi itu pun sudah sampai di meja kepala sekolah, sampai akhirnya anggota klub drama yang tersisa saat itu mengadakan rekrutmen anggota sukarela dari luar sekolah yang bisa ikut latihan setiap Sabtu dan Minggu. Dari rekrutmen itu, klub drama bisa menjaring hingga lima anggota tambahan dari berbagai SMP, dan gua adalah salah satunya.

Apakah cukup sampai di situ? Tidak juga. OSIS masih beranggapan hal itu tidak menjamin bahwa klub drama bisa lebih produktif dengan anggota bayangan yang belum tentu akan mendaftar di SMA Budi Pekerti Luhur. Mereka mendesak kepala sekolah untuk segera memutuskan.

Tapi rupanya kepala sekolah melihat usaha klub drama dengan lebih bijaksana untuk bisa bertahan. Ia menolak petisi OSIS dan memberikan kesempatan kepada klub ini untuk terus eksis dengan syarat, paling tidak mereka memiliki sebelas anggota tetap. Tentu saja hal itu tidak mudah, asbabul OSIS sering membuat kegaduhan dan menebar isu-isu menakutkan tentang klub drama hingga tetap saja, klub ini sepi peminat.

Dan akhirnya, di sinilah gua berada. Bersama mereka yang sama-sama ditemukan di jalanan, lalu disatukan di sekolah ini dalam ikatan keluarga kecil bernama klub drama. Kalau bukan karena mereka yang selama dua tahun ini berjuang untuk kepentingan bersama, gua yakin, klub drama SMA Budi Pekerti Luhur sudah tamat sejak dua tahun lalu.

Let's face it, friends make life a lot more fun.*  Lucu memang kalau kesusahpayahan ini jadi cara yang menyenangkan untuk menghabiskan waktu remaja gua yang berharga bersama mereka. 

Dan di sinilah gua. Bersama mereka. Dengan biaya dan tenaga seadanya, kami mempersiapkan pertunjukan kecil untuk acara perkenalan ektrakurikuler di hari ketiga masa orientasi siswa. Sebuah panggung pertempuran bagi kami dan klub-klub kecil lain di sekolah ini untuk bisa mengalahkan OSIS satu kali lagi. 

Satu minggu dari sekarang.


---
* Charles R. Swindoll

Hayo, mau komen apa coba?

Link aktif akan langsung ditandai sebagai spam, sebagai alternatif bisa pilih comment as menggunakan Nama/URL ya :)
EmoticonEmoticon