12 Dec 2016

Ibu, Yang Tak Pernah Berhenti Mendoakan

Ibu, Yang Tak Pernah Berhenti Mendoakan - Sejak kecil, saya merasa bahwa bapak adalah sosok terdekat bagi saya. Kemana-mana, saya selalu diajak, ke pantai, ke kantor, ke bank, bahkan saat bapak pergi Jumatan--dan akhirnya beliau harus mengepel masjid karena saya ngompol saat semua orang sedang solat. Saya merasa bahwa kedekatan batin saya dan bapak lebih kuat dari siapapun.
Ibu, Yang Tak Pernah Berhenti Mendoakan
Ibu, Yang Tak Pernah Berhenti Mendoakan
Saya akui, untuk bisa menciptakan kedekatan itu dilatarbelakangi karena saya adalah tipe idaman bapak sekali. Nurut. Manut. Berbeda dengan kakak laki-laki saya yang jauh dari kata nurut. Seperti anak laki-laki pada umumnya, kakak saya selalu suka keluyuran, main, berbuat onar, bahkan melakukannya diam-diam. Hal-hal yang bapak saya tidak sukai. Jauh dari kata idaman. Sehingga tidak heran jika bapak lebih merasa nyaman mengasuh saya dan menuruti kemauan saya--dengan dalih anak nurut, disayang semua orang.

Sementara itu, saya selalu merasa Ibu memihak kepada kakak laki-laki saya. Semua yang dilakukan kakak laki-laki saya mendapatkan banyak toleransi dibanding ketika saya yang melakukannya. Kesalahan saya jadi tampak luar biasa nyata bagi ibu saya, sehingga sejak dulu, saya sering berdebat karena berbeda pendapat dengan ibu. Berdebat dalam segala hal, bahkan untuk hal-hal yang bisa dibilang sangat sepele. Dan ibu jadi lebih sering memarahi saya. Semua itu dibilangnya karena ibu peduli pada saya dan masa depan saya.

Tapi itu dulu. Ketika saya sedang berada di posisi dipengaruhi hormon, sehingga suka meledak-ledak, emosional, baperan--istilahnya jaman sekarang--dan belum berada di posisi ibu saat itu.

Sejak saya menikah, semuanya berubah. Tiba-tiba saya merasa bahwa ibu berubah menjadi sosok yang paling mengerti saya. Sosok yang paling berusaha untuk memahami keadaan saya. Bisa menerima saya dengan toleransi yang luar biasa. Tidak lagi mendebat meski saya masih suka mengemukakan pendapat yang saya pikir lebih benar. Bukan berarti kepedulian ibu sirna, tapi beliau tahu bagaimana menempatkan diri pada saya yang kini sudah bersuami.

Ibu tahu benar, seorang perempuan bersuami adalah milik suaminya. Keluarga tetap keluarga, tapi suami, adalah yang paling berhak atas istrinya. Ibu paham betul bahwa, perasaan dan kehidupan antara suami dan istri, adalah hal-hal yang tidak lagi bisa dicampuri pihak manapun, bahkan oleh keluarga sendiri. Jadi, adakalanya ibu lupa, ibu bisa menerima ketika saya mengingatkannya.

Beberapa kali ibu mengatakan, Ibu doakan, Nak. Dan saya tahu benar, itu bukan sekadar ucapan semata. Mesti di dalam sujud dan doanya, ibu selalu menyebut nama saya. Hingga kini saya menyadari, apapun yang dulu sering kami perdebatkan dan saya tidak bisa menerimanya, adalah ibu berusaha mengajari saya untuk mendidik anak perempuan sehingga paham betul izzah dan iffahnya seorang perempuan. Terima kasih Ibu.

5 comments

doa ibu adalah hadiah yg paling berharga ^^

In syaa Allah Mba Ummu... terima kasih sudah berkunjung :)

Yap, sebelum nikah emang aku juga bandel mbak. Suka semaunya sendiri dan apa-apa harus diturutin gak boleh kalah. ehhh pas udah nikah punya 2 anak yg laki-laki semua jadi ingat ibu dan ibu deh huhhuhuhu ga gampang ternyata

Alhamdulillah, semoga Mba Feb bisa jadi ibu yang hebat seperti ibunya Mba Feb. Semoga saya juga cepat dapat momongan ya Mba Feb :)

semua ibu pasti menginginkan yg terbaik bagi anaknya. Sebgai ibu, skr juga harus membiasakan menyebut nama anak2 saat berdoa

Hayo, mau komen apa coba?

Link aktif akan langsung ditandai sebagai spam, sebagai alternatif bisa pilih comment as menggunakan Nama/URL ya :)
EmoticonEmoticon