23 Feb 2017

Guru is Back to Reality

Guru is Back to Reality - Bagi sebagian orang, libur dua minggu adalah sebuah anugerah terindah yang sulit sekali dimiliki, dalam hal ini tentu saja, para mom-blogger tidak bisa diikutsertakan. Yee, jangan iri ya, hehehe. Katakanlah seorang pekerja kantoran, atau pegawai BUMN misalnya. Dua minggu bisa dimanfaatkan untuk banyak hal, travelling, pulang kampung, atau ibadah umrah. Tapi berbeda dengan seorang guru, tentu saja guru yang punya jobdesk yang sama seperti saya, yang mengisi liburan dua minggu justru hanya dengan membuat perangkat pekerjaan yang kalau saya tidak ingat berjumlah 23 item.

Guru is Back to Reality
Guru is Back to Reality

Sejak usia dini hingga sebelum akhirnya saya memilih untuk menjadi seorang guru yang bekerja di sekolah secara penuh, saya tidak pernah sekalipun melihat ibu saya yang juga seorang guru mengerjakan perangkatnya di rumah, entah karena memang ibu saya pandai mengatur waktu, atau ada faktor lainnya. Pasalnya, saat saya ikut membantu beliau bekerja di sekolahnya, pernah sekali saya mendapati beliau sedang membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan tulis tangan, manual.

"Wah, Ibu membuat RPP dengan tulisan tangan?" tanya saya takjub kala itu. Giat bolpen ibu menari-nari di atas buku besar ukuran folio, ibu saya hanya mengangguk. "Kenapa tidak ditik saja, Bu?"

"Lha, yang mau ngetik siapa? Ibu menyalakan komputermu saja tidak bisa," seloroh ibu santai sekali, sepertinya menulis di buku besar itu berlembar-lembar tiada kepayahan sedikit pun.

"Kapan harus dikumpulkan dan diselesaikan, Bu?" saya ingin tahu sekali segala hal tentang tugas seorang guru karena saat itu, cita-cita menjadi seorang guru sudah tertanam pada diri saya semasa kecil.

"Ya... seselesainya."

"Boleh kapan saja?"

"Ya kenapa tidak boleh?"

"Tidak ada yang periksa?"

"Nanti kepala sekolah yang tandatangani, kalau sudah selesai."

"Tidak ada pemeriksaan? Lalu, perangkat lainnya seperti program semester, tahunan, silabus, dan lain-lain?"

"Ya siapa yang mau periksa, ngeladen mau periksa semua ini. Yang penting saat pengawas datang, sudah ada yang diserahkan, tahun-tahun sebelumnya juga tidak masalah."

"Kok enak, Bu?"

"Namanya juga guru negeri, datang mengajar tepat waktu dan tidak membiarkan kelas kosong saja sudah alhamdulillah, Nak."

Baiklah, jangan bayangkan bahwa keadaan itu terjadi di semua sekolah dan semua daerah yang ada di Indonesia, ya, Teman-teman, karena pada kenyataannya hal itu tidak terjadi di tempat saya bekerja kini.


Menyelesaikan kelengkapan perangkat sebanyak 23 item tadi adalah sebuah kewajiban setiap semester dan setiap tahunnya. Jadi jangan katakan, "Kan mudah, nanti tinggal copy-paste," dan membayangkan bahwa saya cukup sekali membuat soal kuis atau ujian mid dan semester sepanjang tahun, lalu bisa saya ulangi soal tersebut di kesempatan yang sama tahun depannya. Tidak. Sungguh, Teman-teman, tidak seperti itu.

Jadi, awalnya 23 perangkat itu hanyalah dibuat dalam bentuk dokumen (file) dengan alasan efisiensi (paperless) dan hanya akan dicetak saat mendekati kegiatan monitoring dan evaluasi yang dilakukan setahun sekali, kebetulan di sekolah swasta kegiatan itu dilaksanakan pada semester genap, sementara di sekolah negeri dilaksanakan pada semester ganjil. Tapi, karena tempat bekerja saya itu termasuk tempat kerja yang sering memberikan kebijakan--yang adalakalanya saya rasa tidak bijak--tiba-tiba semua guru diminta untuk mencetak perangkatnya, setiap semester, setiap tahun dengan adanya koreksi dan perbaikan. Dan tidak tanggung-tanggung, bahkan kini cetakan 23 item perangkat itu telah menjadi syarat mutlak untuk mendapatkan tunjangan kinerja bulanan sebesar Rp2.500.000 eh maaf, salah, Rp250.000 per bulan dengan estimasi bahwa tunjangan kinerja tersebut mencukupi pembelian kertas, biaya cetak perangkat, pembelian map, dan ATK lainnya yang dibutuhkan. Alhamdulillah.

Jadi, dua minggu yang saya dapatkan untuk liburan adalah dua minggu yang bisa saya manfaatkan untuk mengerjakan tagihan perangkat, dan juga membuat rencana kegiatan atas materi yang akan saya ajarkan kepada murid-murid satu semester kedepan, mengedit powerpoint, soal latihan, dan mencari metode-metode apa yang kira-kira membuat siswa bersemangat mengikuti kelas saya. HIngga akhirnya, tanpa terasa dua minggu terlewat begitu saja, tanpa jalan-jalan, apalagi pergi ke laut, ke tempat rekreasi, atau ke kampung halaman. Tapi insyaa Allah masih tetap bermanfaat apalagi sambil menemani pak suami nge-blog. 😝

Dua minggu selesai, dan saya kembali ke kehidupan nyata, berkutat dengan perangkat, buku latihan siswa, antusiasme mereka di kelas, dan bertemu rekan-rekan seperjuangan dan mereka yang memandang kami semua sama: rewel dan sulit diatur. Jadilah, ini adalah postingan perdana saya setelah kembali ke dunia nyata, semoga di kemudian hari, blog ini akan kembali hidup seperti sebelumnya dan exciting jobs kembali datang silih berganti. Aamiin.

Selamat ber-blog-ria ibu-ibu kece yang jago nge-blog 😜

4 comments

Apapun yang terjadi tetap semangat...... Guru memang sosok yang luar biasa. Ditunggu postingan selanjutnya.

Terima kasih Mba Munasyaroh... :)

Tetap semangat mbak
Dulu saya juga mikir gitu, materi tinggal ngulang, soal juga pake aja yg tahun2 kemarin. Kenyataannya tetap saja tiap UTS dan UAS bikin soal baru hahaha

Betuuulll... ternyata tiap mendekati UTS dan UAS, soal diperiksa asesor :D Tetap semangat Mba Arni, terima kasih susah berbagi semangat :)

Hayo, mau komen apa coba?

Link aktif akan langsung ditandai sebagai spam, sebagai alternatif bisa pilih comment as menggunakan Nama/URL ya :)
EmoticonEmoticon